Modul Kelas XII

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

Normal
0
false

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

KOMPETENSI  II

FIQH MU’AMALAH

 

MAWARIS

TUJUAN PEMBELAJARAN :

1.       Menjelaskan pengertian warisan, kewajiban sebelum harta dibagi, kelompok ahli waris,   keten-

       Tuan harta waris, hijab dan mahjub serta hikmah mawaris.

2.       Mempraktekkan cara membagi warisan, baik dengan cara ashabah, al-‘aul, Ar-Rad atau Gharawain

3.       Menjelaskan warisan menurut hukum adat dan UU No. 7 tahun 1989

 

A.             PENGERTIAN MAWARIS.

Dalam ilmu Fiqh mawaris disebut juga dengan Ilmu Faraidh yaitu ilmu yang membicarakan tentang pembagian harta peninggalan seorang muslim yang meninggal. Harta yang ditinggalkan itu setelah dikurangi keperluan biayaorang yang meninggal disebut harta waris, orang yang berhak mendapat warisan disebut ahli waris, adapun ketentuan yang diterima ahli waris disebut Furudhul Muqaddarah.

 

 

B.             HAL YANG PERLU DILAKUKAN SEBELUM HARTA WARIS DIBAGI.

1.       Zakat, bila harta yang ditinggalkan mencapai nisab.

2.       Biaya mengurus jenazah.

3.       Hutang bila ada (QS. An-Nisa’ (4) : 12)

4.       Wasiat, yaitu pesan sebelum seseorang meninggal (QS. An-Nisa’ (4) : 11)

Dengan Syarat :

a.       Tidak boleh lebih dari 1/3

b.      Tidak boleh berwasiat kepada ahli waris kecuali ahli waris yang lain ridha

c.       Tidak untuk maksiat

5.       Nazar bila ada.

 

 

8

C.              AHLI WARIS

           Ahli waris yang berhak mendapat warisan dari seseorang yang meninggal dunia semuanya ada

              25 orang. 15 orang dari pihak laki-laki dan 10 orang dari pihak perempuan.

1.       Ahli waris dari pihak laki-laki

a.       Anak laki-laki

b.      Cucu laki-laki dari anak laki-laki

c.       Bapak

d.      Kakek dari Bapak

e.      Saudara laki-laki sekandung

f.        Saudara laki-laki sebapak

g.       Saudara laki-laki seibu

h.      Anak laki-laki dari saudara laki-laki kandung

i.         Anak laki-laki saudara laki-laki sebapak

j.        Paman yang sekandung dengan bapak

k.       Paman yang sebapak dengan bapak

l.         Anak laki-laki paman yang sekandung dengan bapak

m.    Anak laki-laki paman yang sebapak dengan bapak

n.      Suami

o.      Laki-laki yang memerdekakan

Jika semua ahli waris di atas masih ada, maka yang berhak mendapat warisan hanya tiga saja yaitu :

a.       Anak laki-laki

b.      Bapak

c.       Suami

 

2.       Ahli waris dari pihak perempuan

a.       Anak perempuan

b.      Cucu perempuan dari anak laki-laki

c.       Ibu

d.      Nenek dari pihak bapak

e.      Nenek dari pihak ibu

f.        Saudara perempuan sekandung

g.       Saudara perempuan sebapak

h.      Saudara perempuan seibu

i.         Istri

j.        Perempuan yang memerdekakan

 

9

Jika semua ahli waris itu ada maka yang mendapat warisan hanya 5 orang saja yaitu :

a.       Istri

b.      Anak perempuan

c.       Ibu

d.      Cucu perempuan dari anak laki-laki

e.      Saudara perempuan sekandung

Selanjutnya bila semua ahli waris dari pihak laki-laki dan perempuan semuanya ada maka yang berhak mendapat warisan hanya 5 saja yaitu :

a.       Suami / Istri

b.      Ibu

c.       Bapak

d.      Anak laki-laki

e.      Anak perempuan

 

D.    FURUDHUL MUQADDARAH

1.       Dzawil Furudh yaitu : ahli waris yang mendapat bagian dari harta peninggalan menurut ketentuan yang diterangkan dalam Al-Qur’an atau hadits. Yaitu :

a.       Ahli waris yang mendapat ½ :

·         Anak perempuan tunggal

·         Cucu perempuan tunggal dari anak laki-laki

·         Saudara perempuan tunggal sekandung

·         Saudara perempuan tunggal sebapak

·         Suami bila tidak ada anak atau cucu

b.      Ahli waris yang mendapat ¼ :

·         Suami bila ada anak atau cucu

·         Istri bila tidak ada anak atau cucu

c.       Ahli waris yang mendapat 1/8 :

·         Istri bila ada anak atau cucu

d.      Ahli waris yang mendapat 2/3 :

·         2 orang anak perempuan / lebih bila tidak ada anak atau cucu laki-laki

·         2 orang cucu perempuan / lebih bila tidak ada anak atau cucu laki-laki

·         2 orang / lebih saudara perempuan sekandung

·         2 orang / lebih saudara perempuan sebapak

 

 

 

 

10

 

 

e.      Ahli waris yang mendapat 1/3

·         Ibu bila tidak ada anak / cucu / saudara

·         Dua orang atau lebih saudara laki-laki / perempuan yang seibu

f.        Ahli waris yang mendapat 1/6

·         Ibu bila ada anak / cucu / saudara

·         Bapak bila ada anak laki-laki atau cucu laki-laki

·         Nenek bila tidak ada ibu

·         Cucu perempuan bila bersama anak perempuan tunggal

·         Kakek bila tidak ada bapak

·         Seorang saudara seibu baik laki-laki maupun perempuan

2.       Ashabah yaitu : ahli waris yang ketentuannya mendapat sisa atau menghabiskan harta waris.  Ashabah terbagi  3 yaitu :

a.       Ashabah binafsihi yaitu : ahli waris yang menjadi ashabah dengan sendirinya, mereka adalah :

·         Anak laki-laki

·         Cucu laki-laki dari anak laki-laki

·         Bapak

·         Kakek dari bapak

·         Anak laki-laki dari saudara laki-laki kandung

·         Anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak

·         Paman yang sekandung dengan bapak

·         Anak laki-laki paman yang sekandung dengan bapak

·         Anak laki-laki paman yang sebapak dengan bapak

b.      Ashabah bil ghoir yaitu : ahli waris yang menjadi ashabah karena sebab orang lain        ( karena ditarik saudara laki-lakinya ) yaitu :

·         Anak perempuan bila ditarik saudara laki-lakinya

·         Cucu perempuan bila ditarik saudara laki-lakinya

·         Saudara perempuan kandung bila ditarik saudara laki-lakinya

·         Saudara perempuan sebapak bila ditarik saudara laki-lakinya

c.       Ashabah ma’al ghair yaitu ahli waris yang menjadi ashabah bila bersama ahli waris perempuan yang lain. Mereka adalah :

·         Saudara perempuan kandung seorang / lebih bila bersama anak perempuan / cucu perempuan seorang / lebih.

·         Saudara perempuan sebapak seorang / lebih bila bersama anak perempuan / cucu perempuan seorang / lebih.

 

 

 

 

11

E.    HIJAB DAN MAHJUB

 

Hijab adalah : halangan seseorang untuk mendapat warisan sedangkan orang yang tidak mendapat warisan disebut “ mahjub”.

Ada halangan yang sifatnya mengurangi, seperti suami mendapat ½ bila tidak ada anak, tapi mendapat ¼ bila ada anak, ini disebut dengan hijab “nuqsan” sedangkan hijab penuh seperti cucu tidak mendapat warisan bila ada anak laki-laki, ini disebut hijab “hirman”.

1.       Sebab-sebab seseorang mendapat warisan :

a.       Adanya pertalian darah dengan yang meninggal ( nasab )

b.      Adanya hubungan pernikahan

c.       Adanya pertalian agama

d.      Karena memerdekakan

2.       Halangan seseorang menerima warisan

a.       Hamba, karena seorang hamba dianggap tidak dapat berbuat sesuatu

b.      Karena memebunuh ahli waris

c.       Karena murtad / atau keluar dari agama Islam

d.      Berbeda agama dengan ahli waris.

 

F.    HIKMAH MAWARIS

1.       Untuk menghindari perselisihan yang mungkin terjadi antara sesama ahli waris.

2.       Untuk menjalin persaudaraan berdasarkan hak dan kewajiban yang seimbang

3.       Menghindari keserakahan terhadap ahli waris lainnya

4.       Untuk menghindari pilih kasih dari orang tua 

5.       Untuk melindungi hak anak yang masih kecil atau dalam keadaan lemah

 

G.   PERHITUNGAN MEMBAGI WARIS

Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum menghitung pembagian waris, yaitu :

1.       Perhatikan susunan ahli waris, apakah ada yang terhalang (tidak menerima warisan )

2.       Bedakan ahli waris dzawil furudh dan ashabah, bila ada ahli waris ashabah lebih dari satu kelompok, maka ahli waris yang lebih jauh keberadaannya dari yang meninggal menjadi ahli waris dzawil furudh.

 

 

 

 

                                                                              12

 

Contoh :

a.       Ashabah

Cara membagi waris dimana ahli warisnya terdapat ashabah, misalnya : Bapak Ahmad wafat, ahli warisnya 1 orang istri, ibu, bapak, 1 orang anak laki-laki, 2 orang anak perem puan dan 3 orang saudara laki-laki. Harta yang ditinggalkan Rp. 12.400.000,- Sebelum meninggal memiliki hutang sebanyak Rp. 200.000,-, wasiat Rp. 100.000,- dan biaya me- ngurus jenazah Rp. 100.000,-, berapakah bagian masing-masing ahli waris ?

                

Jawab  :

 

Harta peninggalan                                                                                   Rp.  12.400.000,-

Kewajiban yang harus dikeluarkan

1.       Hutang                                                                 Rp.  200.000,-

2.       Wasiat                                                                  Rp.  100.000,-

3.       Biaya pengurusan jenazah                           Rp.  100.000,-

Jumlah                                                                          Rp.  400.000,-

Sisa harta waris                                                                                         Rp.  12.000.000,-

Ahli waris

1.       Istri                                        : 1/8

2.       Ibu                                         : 1/6

3.       Bapak                                    : 1/6

4.       Anak laki-laki

5.       Anak perempuan             Ashabah bil ghair

6.       Saudara laki-laki                : Mahjub

 

KPK                                        : 24

Istri 1/8                 = 3/24 X Rp. 12.000.000,-               = Rp. 1.500.000,-

Bapak 1/6            = 4/24 X Rp. 12.000.000,-               = Rp. 2.000.000,-

Ibu 1/6                  = 4/24 X Rp. 12.000.000,-               = Rp. 2.000.000,-

Jumlah                                                                                  = Rp. 5.500.000,-

 

1 anak laki-laki (2 bagian) + 2 anak perempuan (2 bagian) = 4 bagian.

Bagian = Rp. 12.000.000,- – Rp. 5.500.000,-             = Rp. 6.500.000,-

1.       Anak laki-laki = 2/4 X Rp. 6.500.000,-                = Rp. 3.250.000,-

1.       Anak perempuan = 1/4 X Rp. 6.500.000,-       = Rp. 1.625.000,-

                                                                              13

b.      Al ‘Aul.

 

Cara membagi warisan yang tidak terdapat ashabah, setelah KPK semua ahli waris disamakan kemudian ditambahkan, ternyata hasilnya lebih banyak dari satu bilangan, artinya jumlah pembilang lebih besar dari penyebut. Agar bilangan menjadi genap, maka penyebutnya ditambahkan agar sama dengan pembilang, contoh :

 Ibu Endang meninggal, ahli warisnya suami dan 4 orang saudara perempuan, harta waris yang ditinggalkan Rp. 4.900.000,- berapakah bagian masing-masing ?

 

Jawab :

Suami                                            ½

4 saudara perempuan            2/3

KPK                                                                6

Suami + 4 Saudara perempuan          = ½ + 2/3 = 3/6 + 4/6 = 7/6            di ‘aul 7/7

Suami                                                            = ½ = 3/6 = 7/6 X Rp. 4.900.000,-    = Rp. 2.100.000,-

4 Saudara perempuan                           = 2/3 = 4/6 = 4/7 X Rp. 4.900.000,- = Rp. 2.800.000,-

1 Saudara perempuan                           = Rp. 2.800.000,- / 4                             = Rp.    700.000,-

 

 

c.       Ar. Rad.       

 

Cara Membagi waris yang tidak ada waris ashabah, setelah KPK semua ahli waris di samakan kemudian ditambahkan, ternyata hasilnya kurang satu bilangan, maka cara pemecahanya adalah penyebut dikurangi sehingga sama dengan pembilang. Misalnya :

Tuan Heri wafat, ahli warisnya terdiri dari ibu, istri dan satu orang anak perempuan. Harta yang ditinggalkan Rp. 19.000.000,- berapakah bagian masing-masing ?

Jawab :

Ibu                                                                 1/6

Istri                                                                1/8

1 anak perempuan                  ½

KPK                                                                24

Ibu + Istri + 1 Anak perempuan = 1/6 + 1/8 + ½ + 2/24 + 3/23 + 2/24 + 19/24 di rad 19/19

Ibu                                 = 1/6 = 4/24 = 4/19 X Rp. 19.000.000,- = 4.000.000,-

Istri                                                = 1/8 = 3/24 = 3/19 X Rp. 19.000.000,- = 3.000.000,-

1 Anak perempuan   = ½ = 12/24 = 12/19 X Rp. 19.000.000,- = 1.200.000,-

 

 

 

 

                                                           14

               

d.      Gharawain

Pembagian waris yang terdiri dari bapak, ibu, suami,istri, dimana bagian ibu diambil dari bagian istri atau suami. Contoh

Ibu Zainab wafat, ahli warisnya Ibu, Bapak, suami. Harta waris Rp. 12.000.000,- berapakah bagian masing-masing ?

Jawab :

Suami                            1/2

Ibu                                 1/3

Bapak                            Ashabah

Suami            = ½ X Rp. 12.000.000,-                                                                    = Rp. 6.000.000,-

Ibu                 = 1/3 X (Rp. 12.000.000,- -Rp. 6.000.000,-)                             = Rp. 2.000.000,-

Bapak            = Rp. 12.000.000,-(Rp.6.000.000,- + Rp. 2.000.000,-)          = Rp. 4.000.000,-

 

H.   WARISAN MENURUT  HUKUM ADAT.

 

Warisan menurut hokum adat berbeda antara satu adat dengan adat yang lain. Bila suatu daerah sudah dipengaruhi Islam, hukum warisan pun banyak dipengaruhi hokum Islam. Lain halnya dengan daerah yang sedikit dipengaruhi Islam, maka hokum warisnyapun jauh berbeda dengan hukum Islam.

 

Sebab-sebab terjadinya harta pusaka (warisan) menurut hukum adat di Indonesia adalah :

1.       Keturunan

2.       Perkawinan

3.       Adopsi

Anak angkat mendapat harta waris, tetapi daerah yang sudah diwarnai Islam anak angkat tidak mendapat warisan.

4.       Masyarakat

Jika semua ahli waris sama sekali tidak ada maka harta waris menjadi milik masyarakat untuk kepentingan umum.

 

                   

 

  

                                               15

 

 

 

                                                                                                                                                                 

 

 

Evaluasi Kognitif Skill

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar dan tepat !

 

1.      Mawaris dalam ilmu fiqh disebut dengan ilmu faraid, apa artinya ?

2.      Hal-hal apa saja yang perlu dilakukan sebelum harta waris dibagikan ?

3.      Tuliskan syarat-syarat wasiat !

4.      Bila semua ahli waris laki-laki dan perempuan ada, maka yang berhak mendapat warisan siapa saja ?

5.      Jelaskan pengertian furudhul muqaddarah !

6.      Siapa sajakah ahli waris yang mendapat bagian tertentu yaitu, 1/2, 1/4, 1/8, 1/6, 1/3, 2/3?

7.      Jelaskan perbedaan antara ashabah binafsihi dan asabah bil ghair dan beri contoh !

8.      Indonesia memakai beberapa hukum waris, kemukakan hukum waris menurut adat di Indonesia !

9.      Jelaskan perbedaan antara hijab dan mahjub, serta antara hijab nuqsan dan hijab hirman serta berikan contoh !

10.  Tuan X wafat, ahli warisnya ibu, bapak, 1 anak perempuan dan 2 anak laki-laki. Harta warisnya berupa sawah seluas 9600 m2. Tentukan cara pembagiannya dan berapa bagian masing-masing ?  

 

Evaluasi Psikomotor Skill

  

Kegiatan Individual.

Salinlah QS. An Nisa {4} : 11, kemudian terjemahkan dan jelaskan isi kandungannya.

 

Kegiatan Kelompok.

Diskusikan tentang pembagian warisan antara laki-laki dan perempuan ditinjau dari ajaran Islam, kemudian buat laporan secara berkelompok dan presentasikan.

 

 

 

 

 

 

                                                                   16

 

 

 

PERNIKAHAN (MUNAKAHAT)

 

TUJUAN  PEMBELAJARAN :

 

1.      Menjelaskan factor penting dalam memilih pasangan.

2.      Menjelaskan pengertian, hukum, tujuan, syarat dan rukun nikah.

3.      Menjelaskan tentang kewajiban suami-istri menurut ajaran Islam dan hikmah nikah

4.      Menjelaskan pengertian thalaq, rujuk dan iddah.

5.      Menjelaskan perkawinan menurut UU No. 1 tahun 1974 di Indonesia.

 

A.     PENGERTIAN PERNIKAHAN 

Pernikahan sama artinya dengan perkawinan, yaitu aqad yang menghalalkan pergaulan laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya yang menimbulkan hak dan kewajiban masing-masing. Firman Allah dalam Qs. An Nisa’ {4} : 3

      

      Artinya: ……. Maka nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi ………

 

    Ada 4 pengertian yang dipakai Al Qur’an berkaitan dengan pernikahan, yaitu :

1.      Uqdatun Nikah  , berarti bentuk perjanjian yang kuat dalam ikatan pernikahan (QS. Al-Baqoroh {2} : 237)

2.      Zawwaja berasal dari kata Zauj  yang berarti pasangan (QS. Al-Baqoroh {2} : 230)

3.      Mitsaqan Gholidha  yang berarti ikatan yang kokoh (QS. An-Nisa {4} : 21)

4.      Mawaddah wa Rahmah yang berarti bentuk kasih saying yang dirahmati (QS. Ar-Rum {30} : 21)

 

17

 

B.    FUNGSI PERNIKAHAN

1.      Sebagai pilar kokohnya sebuah masyarakat, pernikahan dalam Islam tak hanya masalah individu, melainkan masalah masyarakat juga.

2.      Sebagai penangkal dan penerus kelangsungan hidup manusia, kesinambungan hidup manusia dan kebudayaan merupakan prasyarat utama terlaksananya tugas khalifah di muka bumi (QS. An-Nisa {4} : 1)

3.      Sebagai pelindung bagi terjaganya akhlak dan tata susila.

4.      Merupakan jalan bagi berlangsungnya proses pembentukan dan penanaman nilai – nilai serta pembentukan kepribadian. (QS. At-Tahrim {66} : 6)

5.      Terwujudnya ketentraman, cinta yang suci dan kasih sayang yang dapat dicari setelah menikah.

Catatan :  Allah telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, oleh karena itu manusia tidak

                   perlu gelisah dalam masalah jodoh (QS. Yasin {36} : 36), kalau ingin mendapat pasangan

                   yang baik, maka harus mengkondisikan dirinya menjadi pribadi yang baik, pasangan anda

                  adalah cermin diri anda sendiri (QS.  An-Nuur {24} : 3 dan 26)

 

C.     Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menuju Pernikahan

1.      Adanya kesiapan fisik dan mental. Usia ideal 20-25 bagi wanita dan 25-30 bagi pria.

2.      Kematangan mental, kepribadian dan tingkat pendidikan.

 

D.    Fakto-fakto Penting dalam Memilih Pasangan

1.      Satu Agama (QS> Al-Baqoroh {2} : 221)

2.      Pilih pasangan yang baik kepribadiannya (QS. An-Nur {24} : 3 dan 26)

3.      Tetap memelihara kesucian diri dalam pergaulan

4.      Memohon pertimbangan Allah melalui salat istiqaroh

 

E.     Hukum Pernikahan

1.      Jaiz/Mubah. Hukum ini adalah hukum asal pernikahan artinya setiap orang yang telah memenuhi syarat maka ia boleh menikah.

2.      Sunnah. Artinya, setiap orang yang telah memenuhi syarat nikah dan ia tidak khawatir akan berbuat zina maka apabila ia nikah berpahala dan kalau menunda tidak apa-apa.

3.      Wajib. Hukum ini dikenakan bagi orang yang telah memenuhi syarat nikah dan ia merasa khawatir akan berbuat zina maka ia wajib segera menikah.

4.      Makruh. Hukum ini berlaku bagi orang yang sudah punya keinginan nikah tapi belum mampu member nafkah (sandang, pangan, papan)

5.      Haram. Hukum ini dikenakan bagi orang yang menikah karena maksud jahat baik bagi dirinya sendiri maupun bagi pasangannya.

 

 

                                                                             18

F.     Tujuan Nikah

1.      Tercapainya ketentraman batin dan ketenangan fikiran (QS. Ar-Rum {30} : 21)

2.      Untuk memperoleh keturunan yang sah (QS. Asy-Syura{42} : 11 dan 49-50)

3.      Sebagai alat kendali manusia agar tidak terjerumus pada maksiat (QS. Al-Isra’{17} : 32)

4.      Untuk mewujudkan keluarga sakinah (HR. Jama’ah)

5.      Memenuhi kebutuhan seksual yang sah dan suci (QS. Al-Baqoroh {2} : 187 dan 223)

 

G.    Rukun Nikah

1.      Aqad atau Sighat atau “ijab Kabul” yaitu perkataan wali perempuan yang diterima oleh mempelai laki-laki, termasuk didalamnya mahar atau mas kawin yaitu pemberian wajib calon suami kepada calon istri yang diucapkan dalam akad nikah bias tunai, hutang, bias juga berupa materi atau jasa (QS. Al-Baqoroh {2} : 236-237)

2.      Adanya calon suami

3.      Adanya calon istri

4.      Ada dua orang saksi

5.      Adanya wali bagi mempelai perempuan. Saksi dan wali dengan syarat :

a.      Beragama Islam (QS. Al-Maidah {5} : 51)          d. Merdeka

b.      Baligh                                                                  e. Laki-laki

c.       Berakal sehat                                                      f. Adil dan tidak fasik

 

 Wali terbagi 2 yaitu wali nasab dan wali hakim.

A.       Wali nasab terdiri dari :

a.      Bapak kandung

b.      Kakek (Ayah dari bapak)

c.       Saudara laki-laki kandung

d.      Saudara laki-laki sebapak

e.      Anak laki-laki dari saudara laki-laki kandung

f.        Anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak

g.      Saudara laki-laki bapak (paman)

h.      Anak laki-laki paman (dari pihak bapak)

B.      Wali Hakim, Yaitu wali yang berdasarkan wewenang.

 

H.    Orang-Orang Yang Tidak Boleh Dinikahi (Mahram)  

Al-Qur’an (QS. An-Nisa’{4} : 23-24) telah menjelaskan tentang siapa yang tidak boleh dinikahi (Mahram) terdiri dari 4 kelompok :

1.      Mahrom karena keturunan terdiri dari :

a.      Ibu kandung dan seterusnya keatas

b.      Anak perempuan dan seterusnya kebawah

c.       Bibi, saudara perempuan ibu atau saudara perempuan bapak

d.      Keponakan, Anak perempuan dari saudara perempuan atau saudara laki-lak

 

19

2.      Mahrom karena hubungan pernikahan

a.      Ibu dari istri (mertua)

b.      Anak tiri (bila ibunya sudah dicampuri)

c.       Istri bapak atau ibu tiri

d.      Istri anak atau menantu

3.      Mahrom karena susuan

a.      Ibu yang menyusui

b.      Saudara perempuan sesusuan

4.      Mahrom karena maksud dikumpul atau dimadu

a.      Saudara perempuan istri

b.      Bibi perempuan dari istri

c.       Keponakan perempuan dari istri

 

I.       Hak dan Kewajiban Suami Istri

1.      Kewajiban suami :

a.      Menjadi pemimpin, memelihara dan membimbing keluarga serta menjaga dan bertanggungjawab atas kesejahteraan keluarga (QS. At-Tahrim {66} : 6)

b.      Memberi nafkah, pakaian dan tempat tinggal kepada istri dan anak-anak yang diusahakan secara maksimal (QS. Al-Baqoroh {2} : 168 dan 172)

c.       Bergaul dengan istri secara ma’ruf dan memperlakukan keluarganya dengan cara terbaik.

d.      Memberi kebebasan berfikir dan bertindak pada istri sepanjang tidak bertentang dengan norma Islam, membantu tugas-tugas istri dan tidak mempersulitnya.

2.      Kewajiban Istri :

a.      Taat dan patuh pada perintah suami sesuai dengan ajaran Islam

b.      Selalu menjaga kehormatan diri dan keluarga

c.       Bersyukur atas nafkah yang diterima dan menggunakan dengan sebaik-baiknya

d.      Membantu suami dan mengatur rumah tangga sebaik mungkin

3.      Kewajiban bersama Suami dan Istri :

a.      Memelihara dan mendidik anak dengan sebaik-baiknya

b.      Berbuat baik terhadap mertua, ipar dan kerabat lainnya baik dari suami atau istri

c.       Setia dalam hubungan rumah tangga dan memelihara keutuhannya

d.      Saling bantu antara keduanya (QS. At-Tahrim {66} : 6, QS. An-Nisa’ {4} : 36 dan  QS. Al-Maidah {5} : 2)

 

 

                                                                          20

 

J.       Talaq (Perceraian)

 

1.      Pengertian Talaq dan Hukumnya

Talaq atau perceraian adalah : memutuhkan tali ikatan pernikahan. Hukum asal talaq adalah makruh.

Hukum Talaq ada 4 :

a.      Wajib.  Apa bila terjadi perselisihan antara suami istri yang tidak bisa  didamaikan dan hakim memandang perlu untuk bercerai

b.      Sunnah, apabila suami tidak sanggup lagi menunaikan kewajibannya atau perempuan tidak bias menjaga kehormatan dirinya.

c.       Haram, apabila istri dalam keadaan :

          Haid atau Hamil

          Keadaan suci yang dicampuri

d.      Makruh, yaitu hokum asal talaq

2.      Bentuk-bentuk Talaq

a.      Talaq atau perceraian yang dijatuhkan suami atas kehendak sendiri. Bagi suami yang menjatuhkan talaq seperti ini berkewajiban :

          Memberi sesuatu yang berharga pada istrinya sesuai kemampuannya, pemberian ini disebut Mut’ah (QS. Al-Baqoroh {2} : 236 dan 241)

          Bertindak bijaksana pada bekas istrinya (QS. Ath-Talaq {65} : 1-7

b.      Talaq Khulu’ (Talaq Tebus) Yaitu : talaq yang dijatuhkan suami karena menyetujui permintaan cerai dari istri, dan istri membayar tebusan atau mengembalikan mahar.

c.       Talaq Fasakh, yaitu : yaitu talaq yang dijatuhkan suami atas pengaduan istri. Talaq Fasakh dapat dilakukan karena :

          Adanya aib atau cacat pada salah satu pihak

          Suami tidak mampu member nafkah (Qs. Al-Ahzab {33} : 49

          Adanya penipuan atau penghianatan dari pihak suami

          Diketahui adanya hubungan mahram antara suami istri (QS. An-Nisa’ {4} : 23

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                        21

3.      Jumlah atau Batasan Talaq

Suami istri yang telah bercerai, masih mungkin untuk rujuk kembalai namun untuk menghindari kesewenang-wenangan maka jumlah talak yang membolehkan suami rujuk kembali perlu dibatasi.

Bila terjadi talaq  satu dan dua yang disebut talaq raj’I maka suami b oleh rujuk kembali pada istri yang telah dicerai, sedangkan bila terjadi talaq ketiga yang disebut talaq ba’in maka suami tidaka boleh rujuk kembali pada istri yang telah dicerai kecuali dengan syarat istri yang dicerai telah menikah dengan orang lain atas dasar suka sama suka, telah bergaul sebagai mana mestinya dan telah bercerai lagi (QS. Al-Baqoroh : {2} : 230) m

4.      Cara Menjatuhkan Talaq.

Ada dua cara menjatuhkan talaq :

          Dengan kata-kata yang jelas (sharih), misalnya suami berkata pada istrinya, Engkau saya talaq, atau Engkau saya ceraikan, maka jatuhlah talaqnya satu meskipun tidak disertai niat untuk bercerai.

          Dengan kata-kata samara tau sindiran (kinayah), misalnya Pergilah engkau dari sini atau Pulanglah Engkau kerumah orang tuamu, maka talaqnya belum sah bila tidak disertai niat untuk bercerai.

Beberapa Istilah Lain Tentang Talaq :

a.      Li’an : yaitu suami dan istri saling melaknat. Suami menuduh istrinya berzina tapi tidak dapat menunjukkan 4 orang saksi maka dia harus bersumpah dengan 4 X sumpah atas nama Allah.

 

22

 

 kemudian istri menolak dengan 4 X sumpah seperti diatas, setelah itu maka suami istri menjadi bercerai. (QS. An-Nur {24} : 6 – 9)

 

 

 

b.      Zhihar yaitu : mengharamkan istri dengan menyamakannya seperti ibu sendiri seperti mengatakan “kamu seperti punggung ibuku”, maka untuk menghalalkan kembali suami wajib membayar kifarat (QS. Al-Mujadalah {58} : 3-4)

 

 

 

 

 

 

 

                                                       23

 

c.       Ila’ yaitu seorang suami yang marah sampai mengharamkan istrinya bergaul dengannya atau bersumpah hendak menjauhkan dirinya dari istrinya. Jika ingin menggauli kembali istrinya, wajib membayar kifarat sumpah (QS. Al-Baqoroh {2} : 226 – 227)maupun

d.      Ihdad yaitu berkabungnya istri karena suaminya wafat, tidak memakai wangi-wangian dan sebagainya.

e.      Ta’lik Talaq yaitu seorang suami yang melanggar janjinya pada saat akad nikah, misalnya tidak member nafkah istri 6 bulan berturut-turut, atau menyakiti badan istrinya dan istrinya tidak ridha kemudian mengadukan ke Pengadilan Agama, maka jatuh talak satu.

 

K.     Iddah.

1.      Pengertian Iddah adalah masa menanti bagi perempuan yang dicerai suaminya (baik cerai hidup maupun cerai mati) dengan maksud untuk mengetahui apakah istri yang dicerai itu hamil atau tidak.

2.      Macam-macam iddah :

a.      Perempuan yang ditinggal mati suaminya iddahnya ada 2 macam :

         Apabila sedang hamil, iddahnya sampai anak lahir.

         Apabila tidak hamil, iddahnya 4 bulan 10 hari (QS. Al-Baqoroh {2} : 234)

b.      Perempuan yang dicerai suaminya, iddahnya :

         Apabila sedang hamil, iddahnya sampai anak lahir.

         Apabila tidak hamil, iddahnya 3 X suci (quru’) (QS. Al-Baqoroh {2} : 228)

c.       Apabila tidak haid, iddahnya 3 bulan.

 

 

 

 

 

                                                                  24

3.      Kewajiban suami dalam masa Iddah

Selama masa iddah suami berkewajiban member nafkah lahir dengan ketentuan :

                Memberi nafkah, pakaian dan tempat tinggal bagi istri yang ditalaq raj’i

                Memberi tempat tinggal bagi istri yang ditalaq 3 atau talaq tebus apabila tidak

Hamil

                Memberikan nafkah, pakaian dan tempat tinggal bagi istri yang ditalaq 3 dan

Talaq tebus apabila ia hamil (QS. At-Talaq {65} : 1, 6  – 7)

 

L.      Ruju’

 

1.      Pengertian Ruju’ ialah :

Kembalinya suami pada istri yang telah ditalaq baik talaq satu maupun talaq dua.

2.      Hukum Ruju’

Asal hukum ruju’ adalah “mubah” (boleh), bias jadi sunnah apabila maksud ruju’ untuk memperbaiki hubungan antara keduanya, bisa jadi makruh apabila perceraian lebih bermanfaat bagi kehidupan mereka dan bisa menjadi haram apabila menyebabkan salah satu dari pasangan itu teraniaya.

3.      Rukun Ruju’ .

a.      Istri disyaratkan :

·         Sudah pernah bercampur suami istri

·         Dalam talaq Raj’i

·         Masih dalam masa iddah

b.      Suami disyaratkan :

Baligh, berakal dan atas kemauan sendiri (tanpa paksaan)

c.       Sighat (ucapan) :

·         Sharih (terang-terangan)

·         Kinayah (sindiran) (QS. Al-Baqoroh {2} : 228 dan At-Talaq {65} :2)

 

M. Hadhanah

 

Pengertian hadhanah adalah “mengasuh dan memelihara anak kecil yang belum dapat mengatur dan menjaga dirinya sendiri.

 

 

 

 

                                                                 25

Masalah hadhanah timbul apabila terjadi perceraian orang tua dan meninggalkan anak yang masih kecil, bila keadaan seperti ini terjadi maka ibu lebih berhak untuk mengasuh anaknya namun nafkah belanjanya tetap menjadi tanggung jawab ayahnya. (HR. Abu Daud dan Hakim)

Syarat – syarat menjadi Hadhanah :

1.      Berakal sehat                                                            4. Dapat menjaga kehormatan dirinya

2.      Merdeka.                                                       5. Dapat dipercaya.

3.      Melaksanakan ajaran agama.                      6. Tinggal bersama anak yang dididiknya.

 

N.     Hikmah Pernikahan.

Pernikahan mengandung hikmah antara lain :

1.      Menentramkan hati dan fikiran karena hidup penuh suasana cinta dan kasih saying.

2.      Menyalurkan hajat fitrah biologis yang sah dan mendapatkan keturunan guna melanjutkan hidup.

3.      Membina silaturrahim kedua keluarga, dan masing-masing bertanggung jawab sesuai dengan fungsi dalam rumah tangga.

4.      Menjaga diri dari penyakit-penyakit kelamin yang merusak fisik dan mental serta terhindar dari krisis moral dalam masyarakat.

 

O.     Perkawinan Menurut UU No. 1 tahun 1974.

 

1.      Sahnya Perkawinan.

Dalam UU. No. 1 tahun 1974 pasal 2 ayat (1) ditegaskan bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hokum agama masing-masing. Selanjutnya dijelaskan :

a.      Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum Islam.

b.      Perkawinan menurut hukum Islam adalah aqad yang sangat kuat untuk mentaati

Perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.

 

2.      Pencatatan Perkawinan.

Dalam UU. No. 1 tahun 1974 pasal 2 ayat (2) dinyatakan bahwa setiap perkawinan di catat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku, kemudian dirinci agar :

a.      Terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Indonesia.

b.      Pencatatan pernikahan harus dilakukan oleh pegawai pencatat nikah.

c.       Setiap perkawinan harus dilakukan dihadapan pengawasan pegawai pencatat nikah.

d.      Pernikahan yang dilakukan diluar pengawasan pegawai pencatat nikah tidak mempunyai kekuatan hukum. 

26

3.      Tujuan dan Batasan – batasan Poligami

Dalam UU no. 1 tahun 1974 pasal 3 ayat (12) dinyatakan bahwa “Pada azasnya seorang suami hanya boleh mempunyai seorang istri dan seorang istri hanya boleh mempunyai seorang suami”. Namun seorang suami boleh beristri lebih dari satu dengan mengajukan permohonan pada pengadilan dengan syarat :

a.      Adanya persetujuan dari pihak istri

b.      Adanya kepastian bahwa suami mampu memjamin keperluan hidup istri-istri dan anak-anaknya.

c.       Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil tehadap istri-istri dan anak-anaknya.

 

Pengadilan akan member izin poligami apabila :

a.      Istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri.

b.      Istri menderita cacat badan atau penyakit yang tidak bias disembuhkan

c.       Istri tidak dapat melahirkan keturunan.

 

 

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                        27

EVALUASI KOGNITIF SKILL

 

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan benar dan tepat !

 

1.      Jelaskan pengertian nikah menurut syariat Islam !

 

2.      Nikah adalah sunnah Rosul, jelaskan tujuannya !

 

3.      Pernikahan dinyatakan sah apabila memenuhi 5 rukun nikah, coba tuliskan !

 

4.      Bagaimana cara memilih jodoh (suami atau istri) menurut ajaran Islam !

 

5.      Tuliskan 3 macam kewajiban suami terhadap istri !

 

6.      Jelaskan pendapatmu tentang hidup bebas tanpa nikah yang banyak terjadi di masyarakat dalam hubungannya dengan hukum Islam!

 

7.      Apakah yang dimaksud dengan mahram !

 

8.      Thalaq fasakh dapat dilakukan dengan 4 hal, jelaskan !

 

9.      Tuliskan perbedaan thalaq raj’I dan thalaq ba’in serta konsekwensinya masing-masing!

 

10.  Jelaskan apa yang dimaksud dengan ruju’ dan tuliskan macam-macam iddah !

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s