Nasib Tahu Tempe

NASIB TAHU DAN TEMPE
Ketika pemerintah tidak berdaya menahan laju lonjakan harga kedelai, pengusaha tahu dan tempepun berteriak. Bukan hanya produsen tahu dan tempe, rakyat Indonesia yang mayoritas penggemar tahu tempepun merasa khuatir jika tahu tempe menjadi barang istimewa karena mahalnya harga dan menjadi tidak terjangkau. Setelah buah-buahan lokal kalah bersaing dipasaran dengan serbuan buah impor dengan harga murah maka kini tidak tertutup kemungkinan hal yang sama bakal dialami juga oleh tahu dan tempe, semua adalah akibat ketidak mampuan pemangku kebijakan melindungi rakyat dan negeri ini.
Ketika saya masih SD dulu guru saya bercerita bahwa negeri kita adalah negeri agraris. Lahan pertanian kita luas dan subur, hutan dan laut kita kaya raya, perut bumi kita menyimpan kekayaan luar biasa, sehingga saya sangat bangga menjadi bagian dari negeri ini. Sekarang setelah saya dewasa cerita guru saya itu seakan menjadi cerita hayalan tentang negeri impian, karena yang saya lihat dan saya rasakan kemiskinan, ketidak adilan, kesenjangan social yang semakin hari semakin menganga. Lahan pertanian yang tadinya produktif berubah menjadi gedung-gedung menjulang tinggi atas nama pembangunan, modernisasi dan sebagainya yang justru menggusur dan memiskinkan masyarakat sekitarnya. Lalu yang kaya siapa? Segelintir orang yang menjadi pemilik modal yang adakalanya didapatkan dari hasil perselingkuhan penguasa dan pengusaha yang lagi-lagi memiskinkan rakyat. Dan penguasapun tidak berdaya.
Sejatinya negeri ini bukan hanya sekedar berswasembada pangan melainkan menjadi pemasok produk pertanian dunia. Betapa tidak, kita punya lahan yang luas dan subur, kita punya jumlah penduduk yang besar yang merupakan potensi yang tidak dimiliki oleh Negara lain. Namun sayang seribu kali sayang kenyataannya sungguh jauh berbeda akibat kebijakan yang semuanya menyerahkan pada pasar, negeri kita terlalu liberal. Hidup sebagai petani tidak lagi mendatangkan keuntungan, mereka tetap hidup ber-balut kemiskinan, betapa tidak ketika musim tanam harga pupuk melambung tinggi, begitu panen hargapun anjlok. Lagi-lagi pemerintah tidak berdaya mengatasinya akhirnya orang desa berbondong-bondong kekota karena ingin keluar dari himpitan kemiskinan akibatnya dampak-dampak sosial lainnyapun terus berkembang.  Inilah ironi negeri subur makmur gemah ripa loh jinawi. Terkadang saya kehabisan kata-kata untuk menyebut negeri ini, nyaris tidak mampu lagi berfikir misalnya ketika membaca berita di media bahwa Indonesia mengimpor garam misalnya. Apa yang bias kita komentari dari berita ini, dalam hati saya berkata “Innalillahi wainna ilaihi roojiuun”.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s