Modul Kelas XII

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

Normal
0
false

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

AKHLAKUL KARIMAH  I

(Amal Shaleh, Ridha dan Adil)

 

Tujuan Pembelajaran :

1.       Menjelaskan pengertian Amal shaleh, Ridha dan Adil.

2.       Menyebutkan contoh-contoh prilaku amal shaleh, ridha dan adil

3.       Menunjukkan prilaku yang mencerminkan amal shaleh, ridha, dan adil.

 

Akhlakul mahmudah / akhlak terpuji yaitu segala prilaku yang disyariatkan oleh Alloh, wilayah kajian akhlak itu sangat luas sama luasnya dengan prilaku dan sikap manusia.

a.       Amal shaleh.

 

1.       Pengertian Amal shaleh.

Kata shaleh berarti” kebaikan atau tiadanya/terhentinya kerusakan”. Kebalikan dari kata fasid (rusak). Shaleh juga diartikan sebagai” bermanfaat dan sesuai”. Amal shaleh adalah perbuatan yang jika dilakukan maka suatu kerusakan akan terhenti atau menjadi tiada, atau bias juga diartikan sebagai suatu pekerjaan yang dengan melakukannya diperoleh manfaat dan kesesuaian. (Quraish Shihab, 1997 : 480)

Secara terminologis, amal shaleh adalah segala perbuatan yang tidak merusak atau meng hilangkan kerusakan. Amal shaleh adalah juga perbuatan yang mendatangkan maslahat bagi diri sendiri dan orang lain.

 

2.       Kriteria Perbuatan Amal Shaleh

a.       Niat yang ikhlas karena Allah

b.       Benar dalam melaksanakannya, sebagai mana yang ditentukan Allah dan Rasul-Nya.

c.       Tujuannya hanya mencari ridha Allah.

 

3.       Contoh Perbuatan Amal Shaleh

a.       Mendamaikan dua orang yang berselisih secara adil.

b.      Membantu orang untuk naik kendaraan atau membantu mengangkat barangnya naik kendaraan.

c.       Ucapan yang baik.

d.      Menyingkirkan duri atau rintangan lain dari jalan.

e.       Tersenyum pada sesama.

 

                                                           29

 

 

4.       Keuntungan Beramal Shaleh

a.       Dianugerahi kehidupan yang baik. (QS. An-Nahl {16} : 97)

 

b.      Memiliki rasa kasih saying. (QS. Maryam {19} : 96)

 

c.       Memperoleh pahala yang besar. (QS. Al-An’am {6} : 160)

 

d.      Memperoleh kekuasaan atau kesuksesan di muka bumi. (QS. An-Nur {24} : 55)

 

                       

 

                                                                                  ….  

55. Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa………

 

 

 

                                                                    30

e.       Memperoleh ampunan. (QS. Al-Hajj {22} : 50)

   

f.        Memperoleh jalan keluar atas masalah yang mereka hadapi. (QS. Att-Talaq{65) : 2-3)

                                                                                               

                                                                                                                                                     

 

 Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.       Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.

g.      Memperoleh petunjuk dari Alloh. (QS. Yunus{10} : 9)

 ma

 

5.       Hal-hal yang Merusak Amal Soleh

a.       Sibuk mengurus kesalahan orang lain.

b.      Keras Hati, akibat dihinggapi penyakit riya, ujub, takabur dan hasud.

c.       Cinta pada dunia.

d.      Tidak punya rasa malu.

e.       Panjang angan-angan.

f.        Berbuat zhalim.

 

 

 

 

 

 

 

                                                                   31

b.      Ridha.

1.       Pengertian.

Ridha menurut bahasa ialah : rela, senang hati, berkenan. Sedangkan menurut istilah adalah: Sikap menerima segala takdir/ketetapan dari Allah dengan senang hati.

Menurut ahli tasawuf wajib bagi seorang hamba untuk menerima segala ketetapan Allah, karena pada dasarnya segala pengaturan Allah terhadap hamba-Nya pasti lebih baik dari hamba itu sendiri terhadap dirinya. (QS. Al-Furqon {25} : 2)

 

 

dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya[1053].

 

2.       Contoh Ridha terhadap Takdir Allah.

a.       Tidak pernah berkeluh kesah saat ditimpa musibah.

b.       Tidak menyesali nasibnya.

c.       Tetap terus berusaha.

d.       Hati menjadi tentram.

e.       Tidak sombong dan membanggakan diri ketika meraih sukses.

 

c.       Adil.

1.       Pengertian.

Adil menurut bahasa berarti sama, tidak berat sebelah, berpihak pada kebenaran dan tidak berlaku sewenang-wenang. Jadi, orang disebut berbuat adil apabila ia tidak memihak, jiwanya senantiasa berpihak pada yang benar karena yang benar dan yang salah sama-sama mendapatkan haknya, dan tidak berbuat sewenang-wenang.

Dalilnya Firman Allah : (QS. An-Nisaa’ {4} : 135)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                           32

 

 

Sedangkan ditinjau dari segi istilah, pengertian adil memiliki 4 pemahaman :

1.       Adil berarti sama. Seseorang dikatakan adil bila ia memperlakukan sama atau tidak membedakan seseorang dengan yang lainnya.(QS. An-Nisa’ {4} : 58)

2.       Adil berarti seimbang, bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan seimbang. (QS. Al-Mulk {67} : 3)

3.       Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, atau memberi pihak lain haknya melalui jalan terdekat. Lawannya adalah kezaliman, yang berarti pelanggaran terhadap hak-hak orang lain atau diri sendiri. (QS. Ibrahim{14} : 34, QS. Al-Ahzab{33} : 72).

4.       Adil bermakna keadilan Illahi (QS. Fushilat{41} : 46)

 

2.       Sasaran Penerapan Keadilan dalam Islam

1.       Berlaku adil terhadap diri sendiri,yaitu berpegang pada kebenaran, jujur, berani mengoreksi dan mengakui kesalahan sendiri, teguh pendirian dalam bermuama lah dan beribadah.

2.       Berlaku adil terhadap Alloh, yaitu taat beribadah kepada-Nya dan tidak memper sekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

3.       Berlaku adil terhadap makhluk lain, yaitu berbuat secara layak dan tidak semena- mena terhadap makhluk lain.

 

 

 

                                                                                        33.

 

 

3. Manfaat bersikap Adil

    1. Membentuk pribadi yang tenang dan tentram.

    2. Terbina pribadi muslim yang beriman dan taqwa

    3. Mendapat ridho dan pahala disisi Allah.

    4. Terwujudnya rasa aman, hidup rukun, dan hubungan yang harmonis dengan alam.

    5. Disenangi oleh sesama manusia.

    6. Meningkatkan disiplin, menghargai waktu dan semangat beramal soleh.

    7. Memanfaatkan alam sekitar untuk kemaslahatan hidup.

 

4.       Contoh Prilaku Adil dalam Kehidupan.        

a.       Adil kepada Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dalam

menyembah-Nya dan sifat-sifat-Nya, taat kepada-Nya, berzikir dan bersyukur hanya kepada-Nya.

b.       Adil dalam memberikan keputusan hukum kepada manusia, dengan memberikan hak-hak kepada pemiliknya.

c.       Adil diantara istri-istri dan anak-anak dengan tidak melebihkan satu dari yang lain.

d.       Adil dalam perkataan dengan tidak bersaksi palsu dan tidak berkata bohong.

e.       Adil dalam keyakinan dengan tidak meyakini kecuali kebenaran, kejujuran dan tidak dipuji dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya.

 

5.       Prilaku Membiasakan Amal Sholeh, Ridho dan Adil dalam Kehidupan Sehari-hari 

a.       Memiliki rasa kasih sayang terhadap sesame.

b.       Mempunyai sikap toleransi dalam kehidupan

c.       Sopan dalam bertutur kata

d.       Tanggap terhadap masalah lingkungan

e.       Ramah dalam pergaulan.

f.        Selalu bersikap ikhlas dalam berbuat

g.       Menumbuhkan dan mengembangkan sikap qona’ah

h.       Tidak pilih kasih dalam pergaulan

i.         Mengembangkan dan membiasakan untuk selalu berfikir positif dalam hidup.          

 

 

 

 

 

 

 

                                                                        34

 

 

Evaluasi Kognitif Skill

 

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan benar dan tepat !

 

1.       Jelaskanlah pengertian amal soleh dari segi etimologi !

 

2.       Sebutkan 5 contoh perbuatan amal soleh !

 

3.       Tuliskan tiga kriteria amal soleh !

 

4.       Tuliskan prilaku yang mencerminkan amal soleh !

 

5.       Apakah keuntungan bagi orang yang beramal soleh ?

 

6.       Hal-hal apa sajakah yang dapat merusak amal soleh seseorang ?

 

7.       Jelaskan akibat perbuatan zolim berdasarkan QS. Yunus {10} : 13 !

 

8.       Jelaskan pengertian ridha menurut bahasa dan istilah !

 

9.       Sebutkan fungsi ridha terhadap takdir Allah !

 

10.   Jelaskan pemahaman tentang berlaku adil !

 

11.   Tuliskan sasaran penerapan berlaku adil dalam Islam !

 

12.   Apa manfaat dari sikap seseorang yang berlaku adil !

 

13.   Berikan contoh perilaku berlaku adil dalam kehidupan dan apa yang dimaksud berfikir matang !

 

 

 

 

 

                                                                        35

 

 

 

 

AKHLAKUL KARIMAH  II

(Menjaga Kerukunan dan Persatuan/Tasamuh)

 

Tujuan Pembelajaran :

1.       Menjelaskan pengertian menjaga kerukunan dan persatuan.

2.       Menyebutkan contoh-contoh menjaga kerukunan dan persatuan.

3.       Membiasakan prilaku menjaga kerukunan dan persatuan dalam kehidupan sehari-hari.

 

a.                Menjaga Kerukunan.

1.       Pengertian.

Menjaga kerukunan adalah sikap mental dalam rangka mewujudkan kehidupan

Hubungan antar manusia dalam masyarakat tidak selamanya berjalan mulus, terka-dang terjadi konflik yang menimbulkan permusuhan. Untuk itu diperlukan sikap dan perbuatan yang mengarak pada terciptanya kerukunan, seperti  :

a.       Silaturrahmi dengan keluarga atau tetangga.

b.       Tolong menolong antar sesame dalam menghadapi kesulitan.

c.       Menghormati dan mentaati aturan yang dibuat selama tidak bertentangan dengan syariat Islam.

d.       Saling menyayangi antar sesame.

Selain itu sebagai manusia yang hidup ditengah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan maka dari itu harus menghindarkan diri dari prilaku :

1.       Egoisme, merupakan sikap yang mendasarkan pada kepentingan diri sendiri.

Selalu ingin menang sendiri, merasa paling benar tidak mau menghargai pendapat orang lain dan sering memandang rendah orang lain.

2.       Ekstrimisme, adalah sikap egois yang paling keras karena selalu ingin memaksakan kehendak pada orang lain, untuk mencapai tujuannya sering menghalalkan segala cara meskipun tindakannya merugikan orang lain.

 

 

 

 

 

 

                                                                        36

 

 

 

 

            Contoh Konsep Kerukunan Umat Beragama.           

a.       Kerukunan Intern Umat Beragama.

Kerukunan intern umat beragama sudah dilakukan sejak zaman Rasululloh, seperti dijelaskan dalam QS. Al Fath {48} : 29 yang berbunyi :

 

 

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud[1406].

 

Dari penjelasan ayat ini jelaslah bahwa cara melakukan kerukunan dengan umat seagama yang di praktekkan Rasululloh, para sahabat dan orang – orang mukmin adalah berkasih sayang sesama muslim, senada dalam berfikir dan seirama dalam melangkah untuk mencari karunia dan keridhaan Alloh.

 

b.      Kerukunan Antar Umat Beragama

Kerukunan antar umat beragama diatur dalam surat Al Kafirun.

 

 

 

Artinya : (1). Katakanlah : Hai orang-orang yang kafir. (2). Aku tidak akan menyembah apa                 yang kamu sembah. (3). Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.

 (4). Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.

 (5). Dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah (6). Untukmulah  agamamu dan untukkulah agamaku.

 

Kesimpulan ayat tersebut adalah : dalam masalah muamalah kita tetap bergaul akrab,      tetapi dalam masalah ibadah dan aqidah masing-masing, tidak boleh dicampuradukan.

 

 

 

 

                                                                        37

 

c.       Kerukunan Umat Beragama dengan Pemerintah

Dijelaskan dalam firman Alloh QS. An-Nisa’ {4} : 59.                  

 

 

 

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

 

            Jadi kerukunan umat beragama dengan pemerintah direalisasikan dengan mentaati segala pera-

            turan yang dikeluarkan oleh pemerintah selama peraturan itu tidak bertentangan dengan syariat

            Islam, disamping memupuk jalinan kerjasama antara ulama dan umara dalam membina umat

            Agar mentaati perintah Alloh dan Rasul-Nya.

               

                Manfaat Menjaga Kerukunan                 

1.       Adanya stabilitas nasional, karena setiap warga negara mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sama dalam membina kerukunan hidup beragama.

2.       Dapat menghindarkan diri dari perbuatan yang membahayakan dan merugikan bagi kehidupan beragama.

3.       Terhindar dari perpecahan.

 

Menjaga Persatuan

1.       Pengertian.

 

Menjaga persatuan mengandung pengertian melakukan suatu usaha untuk mengikat beberapa bagian yang terpisah menjadi suatu kesatuan atau menjadi satu.

Persatuan dapat terjadi apabila mampu mendialogkan antara “permintaan dan penawaran” antara pihak yang terlibat untuk membuat kesepakatan.

 

 

 

 

 

                                                                                38

 

 

2.       Langkah-langkah untuk Mewujudkan Persatuan

Perjanjian Madinah yang pernah dilakukan Rasululloh dalam kehidupan bermasyarakat dengan umat non Islam, memberikan pelajaran bagaimana cara hidup bersama membangun masyarakat yang adil, aman, damai, sejahtera serta menjunjung tinggi supremasi hukum. Semua itu dapat terwujud, apabila ada kesepakatan yang dipatuhi bersama. Langkah-langkah menyatukan perbedaan dengan cara :

a.       Mendorong umat Islam dan umat lain meningkatkan semangat pemurnian ajaran agama, karena pada dasarnya agama mengajarkan kebaikan, kejujuran, toleransi, musyawarah dll.

b.       Manusia merupakan khalifah dimuka bumi yang tugasnya menyebarkan rahmatal lil ‘alamin, hendaknya diimplementasikan secara konkrit dalam kehidupan sehari-hari.

c.        Menganggap perbedaan adalah sesuatu yang wajar, berusaha mencari titik temu dari setiap perbedaan, mencari kesamaan dalam perbedaan.

d.       Semangat dalam membangun keagamaan, hendaklah berpegang pada ajaran agama yang dipadukan dengan semangat kebangsaan.   

 

3.       Manfaat Menjaga Persatuan

a.       Terjaganya pertumbuhan dan perkembangan hidup suatu agama atau suatu bangsa.

b.       Terciptanya rasa tenang dan damai karena kehidupannya senantiasa dilandasi kasih sayang.

c.        Menimbulkan kesadaran bahwa semua manusia didunia ini memiliki kekhasan masing-masing, sehingga timbullah toleransi dalam menyikapi setiap perbedaan.

d.       Terciptanya kerukunan sehingga semua proses kehidupan berjalan sebagaimana mestinya.

 

4.       Contoh Menjaga Persatuan

a.       Menghagai budaya suku / daerah lain.

b.       Melestarikan budaya atau tradisi yang membawa kemaslahatan bangsa.

c.        Selalu rukun dan damai dalam menyelesaikan setiap permasalahan.

 

5.       Prilaku menjaga Kerukunan dan Persatuan dalam Kehidupan Sehari-hari.

a.       Adanya toleransi beragama.

b.       Tidak menghina pemeluk agama lain.

c.        Menghargai budaya dan masyarakat lain.

 

Evaluasi Kognitif Skill

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar dan tepat !

 

1.       Apakah yang dimaksud dengan menjaga kerukunan ?

2.       Jelaskan contoh perbuatan yang dapat dilakukan untuk mewujudkan kerukunan !

3.       Perbuatan apa saja yang harus dihindari dalam menjaga kerukunan ?

4.       Bagaimana konsep kerukunan hidup beragama di Indonesia ?

5.       Tuliskan manfaat menjaga kerukunan !

6.       Jelaskan apa yang dimaksud dengan menjaga kerukunan !

7.       Bagaimana langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menjaga persatuan !

8.       Tuliskan manfaat menjaga persatuan !

 

39.

AKHLAKUL MADZMUMAH

(Isrof, Ghibah, Fiynah dan Tabzir)

 

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari modul ini diharapkan peserta didik dapat :

1.       Menjelaskan pengertian Isrof, Ghibah, Fitnah dan Tabzir.

2.       Menjelaskan contoh prilaku Isrof, Ghibah, Fitnah dan Tabzir.

3.       Menghindari prilaku Isrof, Ghibah, Fitnah dan Tabzir.

 

A.     ISROF

1.      Pengertian.

Isrof artinya berlebih-lebihan. Menurut istilah berarti suatu ucapan atau perbuatan yang ditambah-tambah atau

Tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Dalam haditsnya Rasululloh SAW mengatakan

“Binasalah orang-orang yang suka berlebih-lebihan, Beliau mengulanginya sampai tiga kali (HR. Muslim)

Seseorang yang berlebihan dalam ucapan dan perbuatan dekat pada dusta, sedangkan pendusta dekat ke

Neraka.

 

2.       Macam – macam Isrof

a.       Isrof dalam Ucapan.

Dalam sebuah Hadits diterangkan bahwa Alloh sangat benci pada orang yang berlagak pintar berbicara terutama orang yang suka mempermainkan lidahnya sebagaimana sapi mempermainkan lidahnya. Orang yang senang berbicara berlebih-lebihan, pandai membual seakan serba tahu semua hal, dalam ajaran Islam termasuk kategori akhlak tercela dan harus dijauhi dalam pergaulan.

Sabda Rasululloh : Barang siapa yang banyak bicara, banyak pula salahnya, dan barang siapa yang banyak salahnya, banyak pula dosanya, dan barang siapa yang bayak dosanya, api neraka lebih layak baginya. (HR. Tth-Thabrani).

 

b.       Isrof dalam Harta

Isrof dalam harta dapat terjadi karena :

·         Menggunakan harta untuk sesuatu yang diharamkan seperti membeli khamr, narkoba, menyuap dll.

·         Membelanjakan harta untuk sesuatu yang tidak diperlukan (QS. Al-Baqoroh {2} : 219)

·         Tidak ada lagi yang tersisa untuk mencukupi diri sendiri.

      

        Menurut Prof. Syekh Yusuf Djawi, sifat royal berasal dari kebiasaan boros yang disebabkan oleh :

·         Pola pikir yang lemah akibat tidak bisa mengatur kebutuhan sehari-hari.

·         Tidak adanya pendidikan agama yang baik untuk diri sendiri dan keluarga.

 

 

 

 

40

c.       Isrof dalam Makan dan Minum

Berlebih-lebihan dalam makan dan minum dilarang agama karena :

1.       Menghilangkan rasa takut kepada Alloh dalam hatinya.

2.       Menghilangkan rasa kasih sayang pada sesame karena menganggap

3.       Menghambat untuk berbuat taat pada Alloh

4.       Membuat seseorang kurang tanggap mendengar kata-kata hikmah.

5.       Sulit diberi nasehat karena tidak tersentuh hatinya.

6.       Menimbulkan berbagai penyakit dalam tubuh.

Sabda Rasululloh : Kebutuhan manusia hanya beberapa suap untuk menguatkan tubuhnya. Apabila memang suatu keharusan, 1/3 perut untuk makan, 1/3 untuk minum, dan 1/3 lainnya untuk udara. (HR. At-Turmudzi) perhatikan juga QS. Al-A’raf {7} : 31.

 

d.       Isrof dalam Beragama

Isrof dalam beragama bisa menimbulkan kultus individu yang dilarang dalam agama. Firman Alloh QS. An-Nisa’ {4} : 171

 

Artinya : Wahai ahli kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam agama kalian, janganlah kamu berkata atas nama Alloh, kecuali yang sebenarnya.

Ayat  ini mengandung teguran kepada umat Nasrani yang berlebih-lebihan karena menganggap Nabi Isa sebagai Tuhan. Juga sindiran kepada umat Nabi Muhammad yang menyanjung beliau secara ber lebihan. Sebagaimana sabda beliau :

“Janganlah kamu sekalian menyanjungku sebagaimana orang Nasrani menyanjung Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku ini adalah hamba Alloh, karena itu katakanlah aku hamba Alloh dan utusan-Nya. (HR. Muslim).

 

3.       Bahaya Isrof

a.       Membinasakan diri dan dianggap saudara syaitan.

b.       Berlebih-lebihan dalam ucapan dan perbuatan akan mendekatkan pada dusta, sedang pendusta akan masuk neraka.

c.        Berlebih-lebihan dalam harta akan menimbulkan kecemburuan sosial dalam masyarakat. QS. Al-Hasyr {59} : 7)

d.       Berlebih-lebihan dalam agama dapat menyebabkan pengkultusan terhadap seseorang, yang dapat menyebabkan bid’ah, khurafat, musyrik, dll.

 

4.       Cara menghindari perbuatan Isrof

a.       Meluruskan niat sehingga menimbulkan ketaatan hanya pada Alloh (QS. Az-Zumar {39} : 3)

b.       Menjaga lisan dari ucapan membual dan sombong (QS. Al-Hujurat {49} : 11-12)

c.        Hemat cermat dalam membelanjakan harta (QS. Al-Isra’ {17} : 29)

d.       Makanlah makanan yang halal dan baik serta seimbang, agar sehat secara kontinu (QS. Al-Baqoroh {2} : 168)

e.       Gemar mengkaji dan memahami ajaran Islam sehingga pelaksanaan agama tidak tercampur dengan bid’ah dan kemusyrikan. (QS. Luqman {31} : 12-19)

41

5.       Contoh Perbuatan Isrof

a.       Mentraktir teman padahal ia sendiri sedang tidak punya uang.

b.       Sudah punya sepatu banyak tapi masih beli lagi karena mengikuti trend.

 

B.     GHIBAH

1.      Pengertian

Menurut  bahasa Gibah berarti pengumpat, penggunjing. Menurut istilah, penggunjing adalah seseorang yang menceritakan sifat, tabiat buruk orang sesuai dengan fakta yang ada pada orang itu. Apabila kejelekan orang yang diceritakan tidak benar disebut fitnah.  Bergunjing adalah sesuatu yang dilarang oleh agama, Firman Alloh QS. Al-Hujurat {49} : 12

 

 

Artinya :

“Dan janganlah kamu menggunjing sebagian yang lain, sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang telah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kamu kepada Alloh, sesungguhnya Alloh maha penerima taubat lagi maha penyanyang.”

 

Imam Ghazali mengatakan : pada setiap manusia selalu menojol 7 sifat (akhlak tercela) dalam kehidupan sehari-hari yaitu sifat dusta (bohong), serakah, kikir, penggunjing, riya, iri hati (hasud) dan sombong (ujub). Dalam QS. An-Nisa {4} : 148 Alloh berfirman

 

 

Artinya : “Alloh tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang, kecuali oleh

                Orang yang dianiaya, dan Alloh maha mendengar lagi maha mengetahui.

 

 

 

 

 

 

 

                                                                        42

 

2.      Bentuk-bentuk Ghibah yang dibolehkan  

Ada ghibah yang dibolehkan untuk tujuan syara’ yang disebabkan oleh 6 hal yaitu :

a.       Orang yang mazhlum (teraniaya), boleh menceritakan dan mengadukan kezaliman orang yang menzaliminya kepada penguasa atau hakim atau orang yang berwewenang.

b.       Orang yang isti’anah (mohon bantuan) untuk menyingkirkan, agar orang yang berbuat maksiat kembali kejalan yang benar.

c.        Istifta (minta fatwa) tentang sesuatu yang akan dilakukan.

d.       Memperingatkan umat Islam dari beberapa kejahatan seperti :

·         Bila ada perawi, saksi atau pengarang yang cacat sifat atau kelakuannya. Menurut ijma’ ulama boleh bahkan wajib member tahu umat. Hal ini untuk menjaga kesucian hadits sebagai sumber hokum Islam kedua.

·         Bila melihat seseorang membeli barang yang cacat atau mengambil pembantu rumah tangga yang suka mencuri, peminum dan sejenisnya sedangkan pembeli tidak tahu maka wajib diberi tahu untuk mencegah terjadinya kejahatan.

·         Bila melihat seseorang yang menuntut ilmu agama pada orang yang fasik atau ahli bid’ah, dikhawatirkan menimbulkan bahaya maka wajib diberitahu dengan cara menjelaskan kesesatannya dengan cara yang santun.

e.       Menceritakan pada khalayak tentang seseorang yang berbuat fasik atau bid’ah.

f.         Boleh memanggil seseorang dengan sebutan yang telah dikenal dengan julukan, misalnya tompel, pincang agar mudah dimengerti orang, tapi kalau tujuannya untuk menghina maka hukumnya haram.

 

3.      Bahaya Ghibah

a.       Dapat mendatangkan kemurkaan Alloh.

b.       Memindahkan amalan baik yang sudah dilakukan kepada orang yang digunjingkan.

c.        Menghilangkan amal perbuatan baik yang sudah dilakukan.

d.       Menyakiti perasaan orang lain, sehingga dapat memutuskan tali silaturrahmi.

e.       Masyarakat menjadi biasa melakukan ghibah karena melihat infotaiment di TV yang seakan-akan ghibah tidak berkonotasi buruk.

 

4.      Cara Menghindari Perbuatan Ghibah

a.       Berbicara dengan berfikir

b.       Berbicara sambil berzikir

c.        Tingkatkan rasa percaya diri dengan mendekatkan diri pada Alloh.

d.       Posisikan diri sebagai seorang muslim yang benar.

e.       Cepat istigfar bila terbersit niat untuk ghibah.

 

 

 

 

 

 

                                                                                                43

C.     PENYEBAR FITNAH

1.      Pengertian.

Menurut Ensiklopedi Islam fitnah berarti : kekacauan, bencana, syirik, cobaan, ujian dan siksaan. Menurut istilah berarti penyebar berita bohong atau desas-desus tentang seseorang dengan maksud tidak baik dari pembuat fitnah terhadap sasaran fitnah. Penyebar fitnah berusaha menyebarkan berita bohong dengan tujuan memperkeruh suasana, baik yang sifatnya perseorangan atau kelompok masyarakat, sehingga terjadilah kebencian antar sesama.

 

2.      Macam-macam Fitnah

a.       Fitnah yaitu : menyebarkan berita bohong yang menyesatkan, sehingga harus dicegah dan dimusnahkan (QS. Al-Baqoroh {2} : 102 dan 191, QS. Al-Hajj {22} : 11)

b.       Fitnah untuk menguji kebenaran akan sesuatu apakah benar atau tidak. Firman Alloh dalam QS. Al-Ankabut {29} : 2 yang artinya : Adakah manusia itu mengira akan dibiarkan saja berkata : “kami beriman, sedang mereka tidak diuji atau fitnah.”

 

3.      Bahaya Perbuatan Penyebar Fitnah.

a.       Menimbulkan kerusakan dimasyarakat luas, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan.

b.       Menumbuhkan rasa permusuhan, kebencian antar sesame yang pada akhirnya menimbulkan dendam.

c.        Membawa musibah seperti perpecahan, bahkan pembunuhan.

d.       Akan mendapat siksa, dibenci dan dimurkai Alloh.

e.       Mendapat hukuman, seperti dijauhi dalam pergaulan, diusir, diperangi bahkan dibunuh.

 

4.      Cara Menghindari Perbuatan Penyebar Fitnah   

a.      Mengecek kebenaran yang diperoleh. QS. Al-Hujurat {49} : 6.

b.      Memperkuat persaudaraan dan persatuan antara sesame umat Islam.

c.      Banyak mendekatkan diri pada Alloh.

 

5.      Contoh Perbuatan Penyebar Fitnah

a.       Menyebarkan berita palsu yang dapat mencelakakan orang lain.

b.       Menuduh orang lain melakukan perbuatan yang tidak dilakukannya.

c.        Menceritakan keburukan orang lain, sehingga menimbulkan perpecahan.

 

 

 

 

 

 

 

                                                                        44.

 

 

D.     TABDZIR

1.      Pengertian

Tabzir adalah segala sesuatu yang digunakan bukan dalam rangka kebenaran (al-haq) disebut sebagai tabdzir, baik perkataan, perbuatan, waktu, harta, fikiran dll. Atau dengan kata lain, tabdzir adalah segala nikmat yang diberikan Alloh digunakan tidak untuk mencari keridhaan Alloh.

Tabdzir dapat dibagi menjadi 3 yaitu :

a.       Tabdzir dalam harta.

b.       Tabdzir dalam kesehatan.

c.        Tabdzir dalam waktu.

 

2.      Contoh Tabdzir

a.       Menggunakan air secara berlebihan saat wudhu’

b.       Makan terlalu banyak (sampai kekenyangan)

c.        Tidak ada usaha atau niat untuk menabung.

d.       Membiarkan lampu menyala disiang hari padahal tidak digunakan.

 

3.      Bahaya Tabdzir

a.       Dapat menimbulkan penyakit hati seperti pemboros, pemalas dll.

b.       Dianggap sebagai saudara syaitan yang tidak mempunyai kebaikan sedikitpun.

c.        Tidak disukai bahkan sangat dibenci Alloh.

d.       Melemahkan rasa belas kasihan pada sesame.

 

4.      Cara Menghindari Tabdzir

a.       Berusaha memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

b.       Terbiasa berbuat efisien

c.        Hemat dalam segala hal

d.       Menghargai jerih payah orang tua atau orang lain.

 

Evaluasi Kognitif Skill.

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan benar.

1.       Apakah yang dimaksud dengan isrof?

2.       Tuliskan macam-macam isrof!

3.       Jelaskan bahaya sikap isrof!

4.       Bagaimanakah cara menghindari isrof.

5.       Apakah yang dimaksud dengan ghibah!

6.       Tuliskanlah cara menghindari ghibah!

7.       Apakah yang dimaksud dengan fitnah?

8.       Tuliskan bahaya perbuatan fitnah!

9.       Apakah yang dimaksud dengan tabdzir!

10.    Bagaimanakah cara berprilaku positif terhadap pelaku penyebar fitnah?

 

45

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

SUMBER-SUMBER HUKUM ISLAM

 

Tujuan Akhir Pembelajaran.

 

1.    Mampu menyebutkan sumber-sumber hukum Islam

2.    Mampu menjelaskan pengertian Al-Qur’an dan fungsinya dalam kehidupan muslim serta mampu menjelaskan isi kandungannya.

3.    Menjelaskan pengertian, macam, fungsi dan pembagian atau tingkatan serta fungsi Hadits.

4.    Menjelaskan pengertian dan bentuk-bentuk ijtihad.

5.    Membedakan pengertian ijmak dan qiyas.

6.     Menjelaskan hokum Islam dan macam-macamnya.

 

A.          Al-Qur’an.

 

1.    Pengertian.

 

Menurut bahasa Al-Qur’an berarti “bacaan atau dibaca”, sedang menurut istilah berarti : “kumpulan wahyu Alloh yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril untuk menjadi petunjuk dan bagi yang membacanya mendapat pahala”.

2.    Kedudukan dan Fungsi.

 

a.        Sebagai mu’jizat bagi Rasululloh Muhammad SAW. ( QS. Al Isra’{17} : 88,

QS. Yunus {10} : 38). Sebagai mu’jizat Al-Qur’an menjadi sebab penting masuknya

Orang-orang Arab kedalam Islam pada masa Rasululloh dan pada masa sekarang.

 

b.    Sebagai pedoman hidup bagi Muslim (QS. An-Nisaa’ {4} : 105, QS. Al-Maidah {5} : 49,  QS. Al-Jatsiyah {45} : 20). Sebagai pedoman hidup, Al-Qur’an mengemukakan pokok-pokok dan prinsip umum pengaturan hidup, hubungan manusia dengan Alloh, sesama manusia dan sesama makhluk Alloh.

 

c.    Sebagai korektor dan penyempurna terhadap kitab Alloh yang diturunkan sebelumnya. (QS. Al-Maidah {5} : 48, QS. An-Nahal {16} : 64) serta Al-Qur’an bernilai abadi.

 

3.    Isi Kandungan Al-Qur’an.

 

a.    Segi kuantitas

Al-Qur’an terdiri dari 30 juz, 114 surat, 6.236 ayat, 323.015 huruf dan 77.439 kosa kata.

 

 

 

 

 

b.    Segi kualitas.

Secara kualitas isi pokok Al-Qur’an terdiri dari :

1.    Aqidah yang isinya berkaitan dengan keimanan, ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu Tauhid atau Ilmu Kalam.

2.    Syariah yang isinya berkaitan dengan amaliah yang mengatur hubungan dengan AllohSWT, dengan sesame manusia dan alam sekitar. Ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu Fiqh.

3.    Akhlak yakni tuntunan agar setiap muslim mempunyai sifat-sifat mulia sekaligus menjauhi sifat-sifat tercela.

Bila ditinjau dari hukum syara’ terbagi menjadi dua (2) kelompok :

1.    Hukum Ibadah.

2.    Hukum Muamalah yang terdiri dari :

a.    Hukum Munakahat (Pernikahan)

b.    Hukum Faraid (Waris)

c.    Hukum Jinayat (Pidana)

d.    Hukum Hudud ( Perdata)

e.    Hukum Jual beli dan Perjanjian

f.     Hukum Al-Khilafah (Tata Negara)

g.    Hukum Makanan dan Penyembelihan

h.    Hukum Aqdhiyah (Pengadilan)

i.      Hukum Jihad (Peperangan)

j.      Hukum Dualiyah (Antar Bangsa).

 

B.  Al – Hadits

 

1.    Pengertian.

Al- Hadits adalah segala prilaku Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapannya. Pengertian Hadits tersebut identik dengan “sunnah” yang berarti jalan atau tradisi juga undang-undang yang tetap berlaku.

 

2.    Macam – macam Hadits.

a.    Hadits Qauliyah          :  Hadits yang berdasarkan pada segenap ucapan dan

   perkataan Nabi Muhammad SAW.

b.    Hadits Fi’liyah              :  Hadits yang didasarkan pada segenap perbuatan dan

   prilaku Nabi Muhammad SAW. 

c.    Hadits Taqririyah         :  Hadits yang didasarkan pada ketetapan dan persetujuan

   Nabi Muhammad SAW terhadap apa yang dilakukan oleh

   para sahabatnya.

   Selain itu ada juga Hadits Hammiyah yaitu Hadits yang

   Berupa keinginan Rasululloh yang belum terlaksana hing-

   ga beliau wafat.

 

 

3.    Kedudukan dan Fungsi Hadits terhadap Al-Qur’an.

 

a.    Bayan Taqrir, yaitu berfungsi memperkuat hukum yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an. Contoh : Larangan berkata dusta (QS. Al-Hajj {22} : 30) “ dan jauhilah perkataan-perkataan dusta”  lalu diperkuat oleh hadits HR. Bukhari “ Sebesar-besar dosa adalah syirik kepada Alloh SWT, membunuh jiwa, durhaka kepada kedua orang tua dan berkata dusta”.

 

b.    Bayan Tafsir, Yaitu memberikan rincian dan penjelasan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang masih bersifat umum. Misalnya ayat tentang sholat, zakat, haji.

Hadits Bukhori “ Sholatlah kamu sebagai mana kamu melihat aku (Nabi) sholat”.

Hadits ini merupakan tafsiran dari QS. An-Nuur {24} : 56.

 

c.    Bayan Tasyri’ Hadits berfungsi menetapkan hukum atau aturan yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an. Misalnya diharamkan menghimpun dalam pernikahan seorang wanita dengan bibinya. Sabda Rasululloh : Tidak boleh seseorang mengumpulkan (memadu) seorang wanita dengan Ammah (bibi dari pihak bapak) dan seorang wanita dengan Khalah (bibi dari pihak ibu). (disepakati HR. Bukhari Muslim) .

 

4.    Pembagian Hadits.

Istilah – istilah yang dipakai dalam Ilmu Hadits adalah :

a.    Matan  : ialah materi yang disampaikan oleh perawi.

b.    Rawi    : ialah orang yang meriwayatkan Hadits.

c.    Sanad  : ialah rangkaian orang yang menjadi perantara sampai kepada Nabi SAW.

Ditinjau dari matan, rawi, dan sanadnya Hadits terbagi menjadi dua :

a.    Hadits Maqbul yaitu Hadits yang bisa dijadikan sumber hukum.

Contoh :

1.    Mutawatir  : yaitu Hadits yang memiliki banyak sanad dan mustahil perawinya

  berdusta secara bersama-sama.

2.    Shahih       : yaitu Hadits yang cukup sanadnya dari awal sampai akhir, dan

  para perawinya sempurna hafalannya.

3.    Hasan        : Yaitu Hadits yang dari segi hafalan rawinya kurang dibandingkan

  dengan Hadits Shahih.

 

b.    Hadits Mardud yaitu Hadits yang tertolak dan tidak dapat dijadikan sebagai sumber hukum. Contoh :

1.    Dhaif         : yaitu Hadits lemah yang tidak bersambung sanadnya.

2.    Mauquf      : yaitu Hadits yang terhenti pada sahabat dan tabi’in.

3.    Munqathi’  : yaitu Hadits yang salah seorang perawinya tidak disebut namanya.

4.    Maudlu’     : yaitu Hadits palsu.

 

C.  Ijtihad

Al-Qur’an dan Hadits tidak akan berubah dan mengalami penambahan isi bersamaan dengan berakhirnya wahyu, sementara permasalahan kehidupan senantiasa muncul  sejalan dengan perkembangan peradaban manusia. Untuk menjawab persoalan tersebut Islam membolehkan umatnya berijtihad.

 

1.    Pengertian.

 

a.    Menurut bahasa, Ijtihad berarti : memeras pikiran, mencurahkan tenaga secara maksimal atau berusaha dengan sungguh – sungguh.

 

b.    Menurut Istilah, Ijtihad berarti : berusaha dengan sungguh – sungguh untuk memecahkan suatu persoalan yang tidak ada ketetapan hukumnya dalam Al-Qur’an dan Hadits dengan menggunakan akal fikiran serta berpedoman pada ketentuan – ketentuan yang telah ditetapkan. Orang yang melakukan Ijtihad disebut Mujtahid. Dasar yang membolehkan berijtihad terdapat dalah Al-Qur’an  Surat An-Nisaa’ (4) : 59. Dan Sabda Rasululloh kepada Abdullah bin Mas’ud : “Berhukumlah engkau kepada Al-Qur’an dan AS-Sunnah apabila persoalan itu kau temukan pada dua sumber tersebut, tapi apabila engkau tidak menemukannya  pada dua sumber tersebut maka berijtihadlah”.

 

c.    Syarat – syarat melakukan Ijtihad.

1.    Mengetahui isi dan kandungan Al-Qur’an dan Al-Hadits.

2.    Mengetahui seluk beluk bahasa Arab dengan segala kelengkapannya.

3.    Mengetahui ilmu ushul dan kaidah – kaidah fiqh secara mendalam.

4.    Mengetahui soal – soal ijma’

 

2.    Bentuk – bentuk Ijtihad

a.    Ijma’

1.    Kesepakatan para pakar Islam tentang hukum suatu masalah yang belum disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits.

2.    Kesepakatan seluruh mujtahid tentang hukum syara’ yang belum ditentukan hukumnya setelah Rasululloh wafat.

3.    Berdasarkan  QS. An-Nisaa’ {4} : 59, setiap muslim disamping perintah untuk taat kepada Alloh dan Rasul-Nya, juga harus taat kepada yang mempunyai keahlian dibidangnya termasuk para mujtahid (ulama). Contoh Ijma’, mengumpulkan ayat Al-Qur’an dan membukukannya menjadi satu mushaf. Contoh lain, bayi tabung, donor dan transfusi darah dll.

b.    Qiyas

Menurut istilah Qiyas berarti : menetapkan hukum suatu masalah atau kejadian yang tidak ada hukumnya dengan masalah yang sudah ada hukumnya karena keduanya ada persamaan illat (sebab – sebab hukum).

 

 

 

Contoh : mengharamkan minuman keras seperti bird an wiski. Haramnya minuman ini karena diqiyaskan dengan khamar yang disebutkan dalam Al-Qur’an (QS. Al-Maidah {5} : 90 – 91) karena antara keduanya terdapat persamaan Illat (sebab, alasan, sifat) yaitu sama – sama memabukkan atau najis.

 

3.  Kedudukan dan Fungsi Ijtihad.

     a. Untuk menjawab persoalan kehidupan manusia yang muncul setiap saat yang tidak

         ditemukan hukum yang baku dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Contoh pelaksanaan

         sholat dalam pesawat.

     b. Islam sangat menghargai peran akal, asalkan sesuai dengan prinsip yang ada dalam

         Al-Qur’an dan Al-Hadits. Sebagaimana sabda Rasululloh :

        “ Apabila seorang hakim memutuskan perkara, kemudian ia melakukan ijtihad dan ter

         nyata hasil ijtihadnya benar maka ia memperoleh dua pahala, dan bila ijtihadnya 

         salah maka ia memperoleh satu pahala.”. (HR. Bukhari – Muslim). 

 

D.  Hukum Taklifi

         

1.    Pengertian Hukum Taklifi

Hukum taklifi disebut juga hukum syar’I, yaitu ketentuan Alloh SWT yang harus dilaksanakan oleh setiap orang mukallaf (mu’min,/muslim, baligh dan berakal sehat) dengan konsekuensi dan sanksi yang telah ditetapkan.

 

2.    Pembagian Hukum Taklifi

Hukum Taklifi dibagi lima(5) bagian yaitu :

a.    Wajib (Fardhu), adalah suatu keharusan. Pengertiannya adalah segala perintah Alloh SWT yang harus dikerjakan. Adapun macam-macam wajib adalah :

*   Wajib Syar’iy, adalah suatu ketentuan yang apabila dikerjakan mendatangkan   

     pahala sebaliknya bila tidak dikerjakan akan berdosa.

*   Wajib ‘Aqliy, adalah suatu ketetapan hokum yang harus diyakini kebenarannya

     karena masuk akal atau rasional.

*   Fardhu ‘Ainiy, adalah suatu ketetapan yang harus dikerjakan oleh setiap muslim

    seperti sholat lima waktu, sholat jum’at, puasa dll.

*   Fardhu Kifayah, adalah suatu ketetapan yang apabila telah dilaksanakan oleh 

    sebagian orang muslim, maka orang muslim lainnya terlepas dari kewajiban itu.

    tetapi bila tidak ada yang mengerjakannya maka berdosalah semuanya.

b.    Sunnat, adalah suatu perbuatan yang apabila dikerjakan akan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak berdosa. Adapun macam-macam sunnat anatara lain :

*Sunnat Muakkad, adalah sunnat yang sangat dianjurkan, misalnya sholat tarawih,

  Sholat idhul fitri dan idhul adha.

 

*Sunnat Ghairu muakkad, adalah sunnat biasa. Misalnya member salam pada

  Orang lain atau puasa senin dan kamis.

 

*Sunnat Hai’at, adalah hal-hal dalam sholat yang sebaiknya dikerjakan, seperti

  Mengangkat dua tangan saat takbir, mengucapkan Allohu Akbar ketika akan

  Rukuk dan sujud. Dll.

 

Evaluasi Kognitif Skill.

 

 

1.    Jelaskanlah pengertian iman pada malaikat !

2.    Tuliskanlah tugas-tugas malaikat !

3.    Jelaskanlah tiga fungsi iman pada malaikat !

4.    Perilaku seperti apakah yang mencerminkan iman pada malaikat ?

5.    Sebagai makhluk gaib, malaikat dikenal dengan beberapa cirri yang berbeda dengan manusia, tuliskanlah cirri-ciri tersebut !

6.    Jelaskanlah apa yang dimaksud dengan sumber hukum Islam !

7.    Tuliskan sumber-sumber hukum Islam yang kamu ketahui !

8.    Jelaskanlah pengertian Al-Qur’an menurut bahasa dan istilah !

9.    Tuliskan fungsi Al-Qur’an dan kandungannya !

10.  Jelaskan macam-macam hadits dan fungsinya terhadap Al-Qur’an.

 

 

 

 

 

 

 

Aside | Posted on by | Leave a comment

Modul Kelas XII

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

Normal
0
false

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

KOMPETENSI  II

FIQH MU’AMALAH

 

MAWARIS

TUJUAN PEMBELAJARAN :

1.       Menjelaskan pengertian warisan, kewajiban sebelum harta dibagi, kelompok ahli waris,   keten-

       Tuan harta waris, hijab dan mahjub serta hikmah mawaris.

2.       Mempraktekkan cara membagi warisan, baik dengan cara ashabah, al-‘aul, Ar-Rad atau Gharawain

3.       Menjelaskan warisan menurut hukum adat dan UU No. 7 tahun 1989

 

A.             PENGERTIAN MAWARIS.

Dalam ilmu Fiqh mawaris disebut juga dengan Ilmu Faraidh yaitu ilmu yang membicarakan tentang pembagian harta peninggalan seorang muslim yang meninggal. Harta yang ditinggalkan itu setelah dikurangi keperluan biayaorang yang meninggal disebut harta waris, orang yang berhak mendapat warisan disebut ahli waris, adapun ketentuan yang diterima ahli waris disebut Furudhul Muqaddarah.

 

 

B.             HAL YANG PERLU DILAKUKAN SEBELUM HARTA WARIS DIBAGI.

1.       Zakat, bila harta yang ditinggalkan mencapai nisab.

2.       Biaya mengurus jenazah.

3.       Hutang bila ada (QS. An-Nisa’ (4) : 12)

4.       Wasiat, yaitu pesan sebelum seseorang meninggal (QS. An-Nisa’ (4) : 11)

Dengan Syarat :

a.       Tidak boleh lebih dari 1/3

b.      Tidak boleh berwasiat kepada ahli waris kecuali ahli waris yang lain ridha

c.       Tidak untuk maksiat

5.       Nazar bila ada.

 

 

8

C.              AHLI WARIS

           Ahli waris yang berhak mendapat warisan dari seseorang yang meninggal dunia semuanya ada

              25 orang. 15 orang dari pihak laki-laki dan 10 orang dari pihak perempuan.

1.       Ahli waris dari pihak laki-laki

a.       Anak laki-laki

b.      Cucu laki-laki dari anak laki-laki

c.       Bapak

d.      Kakek dari Bapak

e.      Saudara laki-laki sekandung

f.        Saudara laki-laki sebapak

g.       Saudara laki-laki seibu

h.      Anak laki-laki dari saudara laki-laki kandung

i.         Anak laki-laki saudara laki-laki sebapak

j.        Paman yang sekandung dengan bapak

k.       Paman yang sebapak dengan bapak

l.         Anak laki-laki paman yang sekandung dengan bapak

m.    Anak laki-laki paman yang sebapak dengan bapak

n.      Suami

o.      Laki-laki yang memerdekakan

Jika semua ahli waris di atas masih ada, maka yang berhak mendapat warisan hanya tiga saja yaitu :

a.       Anak laki-laki

b.      Bapak

c.       Suami

 

2.       Ahli waris dari pihak perempuan

a.       Anak perempuan

b.      Cucu perempuan dari anak laki-laki

c.       Ibu

d.      Nenek dari pihak bapak

e.      Nenek dari pihak ibu

f.        Saudara perempuan sekandung

g.       Saudara perempuan sebapak

h.      Saudara perempuan seibu

i.         Istri

j.        Perempuan yang memerdekakan

 

9

Jika semua ahli waris itu ada maka yang mendapat warisan hanya 5 orang saja yaitu :

a.       Istri

b.      Anak perempuan

c.       Ibu

d.      Cucu perempuan dari anak laki-laki

e.      Saudara perempuan sekandung

Selanjutnya bila semua ahli waris dari pihak laki-laki dan perempuan semuanya ada maka yang berhak mendapat warisan hanya 5 saja yaitu :

a.       Suami / Istri

b.      Ibu

c.       Bapak

d.      Anak laki-laki

e.      Anak perempuan

 

D.    FURUDHUL MUQADDARAH

1.       Dzawil Furudh yaitu : ahli waris yang mendapat bagian dari harta peninggalan menurut ketentuan yang diterangkan dalam Al-Qur’an atau hadits. Yaitu :

a.       Ahli waris yang mendapat ½ :

·         Anak perempuan tunggal

·         Cucu perempuan tunggal dari anak laki-laki

·         Saudara perempuan tunggal sekandung

·         Saudara perempuan tunggal sebapak

·         Suami bila tidak ada anak atau cucu

b.      Ahli waris yang mendapat ¼ :

·         Suami bila ada anak atau cucu

·         Istri bila tidak ada anak atau cucu

c.       Ahli waris yang mendapat 1/8 :

·         Istri bila ada anak atau cucu

d.      Ahli waris yang mendapat 2/3 :

·         2 orang anak perempuan / lebih bila tidak ada anak atau cucu laki-laki

·         2 orang cucu perempuan / lebih bila tidak ada anak atau cucu laki-laki

·         2 orang / lebih saudara perempuan sekandung

·         2 orang / lebih saudara perempuan sebapak

 

 

 

 

10

 

 

e.      Ahli waris yang mendapat 1/3

·         Ibu bila tidak ada anak / cucu / saudara

·         Dua orang atau lebih saudara laki-laki / perempuan yang seibu

f.        Ahli waris yang mendapat 1/6

·         Ibu bila ada anak / cucu / saudara

·         Bapak bila ada anak laki-laki atau cucu laki-laki

·         Nenek bila tidak ada ibu

·         Cucu perempuan bila bersama anak perempuan tunggal

·         Kakek bila tidak ada bapak

·         Seorang saudara seibu baik laki-laki maupun perempuan

2.       Ashabah yaitu : ahli waris yang ketentuannya mendapat sisa atau menghabiskan harta waris.  Ashabah terbagi  3 yaitu :

a.       Ashabah binafsihi yaitu : ahli waris yang menjadi ashabah dengan sendirinya, mereka adalah :

·         Anak laki-laki

·         Cucu laki-laki dari anak laki-laki

·         Bapak

·         Kakek dari bapak

·         Anak laki-laki dari saudara laki-laki kandung

·         Anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak

·         Paman yang sekandung dengan bapak

·         Anak laki-laki paman yang sekandung dengan bapak

·         Anak laki-laki paman yang sebapak dengan bapak

b.      Ashabah bil ghoir yaitu : ahli waris yang menjadi ashabah karena sebab orang lain        ( karena ditarik saudara laki-lakinya ) yaitu :

·         Anak perempuan bila ditarik saudara laki-lakinya

·         Cucu perempuan bila ditarik saudara laki-lakinya

·         Saudara perempuan kandung bila ditarik saudara laki-lakinya

·         Saudara perempuan sebapak bila ditarik saudara laki-lakinya

c.       Ashabah ma’al ghair yaitu ahli waris yang menjadi ashabah bila bersama ahli waris perempuan yang lain. Mereka adalah :

·         Saudara perempuan kandung seorang / lebih bila bersama anak perempuan / cucu perempuan seorang / lebih.

·         Saudara perempuan sebapak seorang / lebih bila bersama anak perempuan / cucu perempuan seorang / lebih.

 

 

 

 

11

E.    HIJAB DAN MAHJUB

 

Hijab adalah : halangan seseorang untuk mendapat warisan sedangkan orang yang tidak mendapat warisan disebut “ mahjub”.

Ada halangan yang sifatnya mengurangi, seperti suami mendapat ½ bila tidak ada anak, tapi mendapat ¼ bila ada anak, ini disebut dengan hijab “nuqsan” sedangkan hijab penuh seperti cucu tidak mendapat warisan bila ada anak laki-laki, ini disebut hijab “hirman”.

1.       Sebab-sebab seseorang mendapat warisan :

a.       Adanya pertalian darah dengan yang meninggal ( nasab )

b.      Adanya hubungan pernikahan

c.       Adanya pertalian agama

d.      Karena memerdekakan

2.       Halangan seseorang menerima warisan

a.       Hamba, karena seorang hamba dianggap tidak dapat berbuat sesuatu

b.      Karena memebunuh ahli waris

c.       Karena murtad / atau keluar dari agama Islam

d.      Berbeda agama dengan ahli waris.

 

F.    HIKMAH MAWARIS

1.       Untuk menghindari perselisihan yang mungkin terjadi antara sesama ahli waris.

2.       Untuk menjalin persaudaraan berdasarkan hak dan kewajiban yang seimbang

3.       Menghindari keserakahan terhadap ahli waris lainnya

4.       Untuk menghindari pilih kasih dari orang tua 

5.       Untuk melindungi hak anak yang masih kecil atau dalam keadaan lemah

 

G.   PERHITUNGAN MEMBAGI WARIS

Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum menghitung pembagian waris, yaitu :

1.       Perhatikan susunan ahli waris, apakah ada yang terhalang (tidak menerima warisan )

2.       Bedakan ahli waris dzawil furudh dan ashabah, bila ada ahli waris ashabah lebih dari satu kelompok, maka ahli waris yang lebih jauh keberadaannya dari yang meninggal menjadi ahli waris dzawil furudh.

 

 

 

 

                                                                              12

 

Contoh :

a.       Ashabah

Cara membagi waris dimana ahli warisnya terdapat ashabah, misalnya : Bapak Ahmad wafat, ahli warisnya 1 orang istri, ibu, bapak, 1 orang anak laki-laki, 2 orang anak perem puan dan 3 orang saudara laki-laki. Harta yang ditinggalkan Rp. 12.400.000,- Sebelum meninggal memiliki hutang sebanyak Rp. 200.000,-, wasiat Rp. 100.000,- dan biaya me- ngurus jenazah Rp. 100.000,-, berapakah bagian masing-masing ahli waris ?

                

Jawab  :

 

Harta peninggalan                                                                                   Rp.  12.400.000,-

Kewajiban yang harus dikeluarkan

1.       Hutang                                                                 Rp.  200.000,-

2.       Wasiat                                                                  Rp.  100.000,-

3.       Biaya pengurusan jenazah                           Rp.  100.000,-

Jumlah                                                                          Rp.  400.000,-

Sisa harta waris                                                                                         Rp.  12.000.000,-

Ahli waris

1.       Istri                                        : 1/8

2.       Ibu                                         : 1/6

3.       Bapak                                    : 1/6

4.       Anak laki-laki

5.       Anak perempuan             Ashabah bil ghair

6.       Saudara laki-laki                : Mahjub

 

KPK                                        : 24

Istri 1/8                 = 3/24 X Rp. 12.000.000,-               = Rp. 1.500.000,-

Bapak 1/6            = 4/24 X Rp. 12.000.000,-               = Rp. 2.000.000,-

Ibu 1/6                  = 4/24 X Rp. 12.000.000,-               = Rp. 2.000.000,-

Jumlah                                                                                  = Rp. 5.500.000,-

 

1 anak laki-laki (2 bagian) + 2 anak perempuan (2 bagian) = 4 bagian.

Bagian = Rp. 12.000.000,- – Rp. 5.500.000,-             = Rp. 6.500.000,-

1.       Anak laki-laki = 2/4 X Rp. 6.500.000,-                = Rp. 3.250.000,-

1.       Anak perempuan = 1/4 X Rp. 6.500.000,-       = Rp. 1.625.000,-

                                                                              13

b.      Al ‘Aul.

 

Cara membagi warisan yang tidak terdapat ashabah, setelah KPK semua ahli waris disamakan kemudian ditambahkan, ternyata hasilnya lebih banyak dari satu bilangan, artinya jumlah pembilang lebih besar dari penyebut. Agar bilangan menjadi genap, maka penyebutnya ditambahkan agar sama dengan pembilang, contoh :

 Ibu Endang meninggal, ahli warisnya suami dan 4 orang saudara perempuan, harta waris yang ditinggalkan Rp. 4.900.000,- berapakah bagian masing-masing ?

 

Jawab :

Suami                                            ½

4 saudara perempuan            2/3

KPK                                                                6

Suami + 4 Saudara perempuan          = ½ + 2/3 = 3/6 + 4/6 = 7/6            di ‘aul 7/7

Suami                                                            = ½ = 3/6 = 7/6 X Rp. 4.900.000,-    = Rp. 2.100.000,-

4 Saudara perempuan                           = 2/3 = 4/6 = 4/7 X Rp. 4.900.000,- = Rp. 2.800.000,-

1 Saudara perempuan                           = Rp. 2.800.000,- / 4                             = Rp.    700.000,-

 

 

c.       Ar. Rad.       

 

Cara Membagi waris yang tidak ada waris ashabah, setelah KPK semua ahli waris di samakan kemudian ditambahkan, ternyata hasilnya kurang satu bilangan, maka cara pemecahanya adalah penyebut dikurangi sehingga sama dengan pembilang. Misalnya :

Tuan Heri wafat, ahli warisnya terdiri dari ibu, istri dan satu orang anak perempuan. Harta yang ditinggalkan Rp. 19.000.000,- berapakah bagian masing-masing ?

Jawab :

Ibu                                                                 1/6

Istri                                                                1/8

1 anak perempuan                  ½

KPK                                                                24

Ibu + Istri + 1 Anak perempuan = 1/6 + 1/8 + ½ + 2/24 + 3/23 + 2/24 + 19/24 di rad 19/19

Ibu                                 = 1/6 = 4/24 = 4/19 X Rp. 19.000.000,- = 4.000.000,-

Istri                                                = 1/8 = 3/24 = 3/19 X Rp. 19.000.000,- = 3.000.000,-

1 Anak perempuan   = ½ = 12/24 = 12/19 X Rp. 19.000.000,- = 1.200.000,-

 

 

 

 

                                                           14

               

d.      Gharawain

Pembagian waris yang terdiri dari bapak, ibu, suami,istri, dimana bagian ibu diambil dari bagian istri atau suami. Contoh

Ibu Zainab wafat, ahli warisnya Ibu, Bapak, suami. Harta waris Rp. 12.000.000,- berapakah bagian masing-masing ?

Jawab :

Suami                            1/2

Ibu                                 1/3

Bapak                            Ashabah

Suami            = ½ X Rp. 12.000.000,-                                                                    = Rp. 6.000.000,-

Ibu                 = 1/3 X (Rp. 12.000.000,- -Rp. 6.000.000,-)                             = Rp. 2.000.000,-

Bapak            = Rp. 12.000.000,-(Rp.6.000.000,- + Rp. 2.000.000,-)          = Rp. 4.000.000,-

 

H.   WARISAN MENURUT  HUKUM ADAT.

 

Warisan menurut hokum adat berbeda antara satu adat dengan adat yang lain. Bila suatu daerah sudah dipengaruhi Islam, hukum warisan pun banyak dipengaruhi hokum Islam. Lain halnya dengan daerah yang sedikit dipengaruhi Islam, maka hokum warisnyapun jauh berbeda dengan hukum Islam.

 

Sebab-sebab terjadinya harta pusaka (warisan) menurut hukum adat di Indonesia adalah :

1.       Keturunan

2.       Perkawinan

3.       Adopsi

Anak angkat mendapat harta waris, tetapi daerah yang sudah diwarnai Islam anak angkat tidak mendapat warisan.

4.       Masyarakat

Jika semua ahli waris sama sekali tidak ada maka harta waris menjadi milik masyarakat untuk kepentingan umum.

 

                   

 

  

                                               15

 

 

 

                                                                                                                                                                 

 

 

Evaluasi Kognitif Skill

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar dan tepat !

 

1.      Mawaris dalam ilmu fiqh disebut dengan ilmu faraid, apa artinya ?

2.      Hal-hal apa saja yang perlu dilakukan sebelum harta waris dibagikan ?

3.      Tuliskan syarat-syarat wasiat !

4.      Bila semua ahli waris laki-laki dan perempuan ada, maka yang berhak mendapat warisan siapa saja ?

5.      Jelaskan pengertian furudhul muqaddarah !

6.      Siapa sajakah ahli waris yang mendapat bagian tertentu yaitu, 1/2, 1/4, 1/8, 1/6, 1/3, 2/3?

7.      Jelaskan perbedaan antara ashabah binafsihi dan asabah bil ghair dan beri contoh !

8.      Indonesia memakai beberapa hukum waris, kemukakan hukum waris menurut adat di Indonesia !

9.      Jelaskan perbedaan antara hijab dan mahjub, serta antara hijab nuqsan dan hijab hirman serta berikan contoh !

10.  Tuan X wafat, ahli warisnya ibu, bapak, 1 anak perempuan dan 2 anak laki-laki. Harta warisnya berupa sawah seluas 9600 m2. Tentukan cara pembagiannya dan berapa bagian masing-masing ?  

 

Evaluasi Psikomotor Skill

  

Kegiatan Individual.

Salinlah QS. An Nisa {4} : 11, kemudian terjemahkan dan jelaskan isi kandungannya.

 

Kegiatan Kelompok.

Diskusikan tentang pembagian warisan antara laki-laki dan perempuan ditinjau dari ajaran Islam, kemudian buat laporan secara berkelompok dan presentasikan.

 

 

 

 

 

 

                                                                   16

 

 

 

PERNIKAHAN (MUNAKAHAT)

 

TUJUAN  PEMBELAJARAN :

 

1.      Menjelaskan factor penting dalam memilih pasangan.

2.      Menjelaskan pengertian, hukum, tujuan, syarat dan rukun nikah.

3.      Menjelaskan tentang kewajiban suami-istri menurut ajaran Islam dan hikmah nikah

4.      Menjelaskan pengertian thalaq, rujuk dan iddah.

5.      Menjelaskan perkawinan menurut UU No. 1 tahun 1974 di Indonesia.

 

A.     PENGERTIAN PERNIKAHAN 

Pernikahan sama artinya dengan perkawinan, yaitu aqad yang menghalalkan pergaulan laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya yang menimbulkan hak dan kewajiban masing-masing. Firman Allah dalam Qs. An Nisa’ {4} : 3

      

      Artinya: ……. Maka nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi ………

 

    Ada 4 pengertian yang dipakai Al Qur’an berkaitan dengan pernikahan, yaitu :

1.      Uqdatun Nikah  , berarti bentuk perjanjian yang kuat dalam ikatan pernikahan (QS. Al-Baqoroh {2} : 237)

2.      Zawwaja berasal dari kata Zauj  yang berarti pasangan (QS. Al-Baqoroh {2} : 230)

3.      Mitsaqan Gholidha  yang berarti ikatan yang kokoh (QS. An-Nisa {4} : 21)

4.      Mawaddah wa Rahmah yang berarti bentuk kasih saying yang dirahmati (QS. Ar-Rum {30} : 21)

 

17

 

B.    FUNGSI PERNIKAHAN

1.      Sebagai pilar kokohnya sebuah masyarakat, pernikahan dalam Islam tak hanya masalah individu, melainkan masalah masyarakat juga.

2.      Sebagai penangkal dan penerus kelangsungan hidup manusia, kesinambungan hidup manusia dan kebudayaan merupakan prasyarat utama terlaksananya tugas khalifah di muka bumi (QS. An-Nisa {4} : 1)

3.      Sebagai pelindung bagi terjaganya akhlak dan tata susila.

4.      Merupakan jalan bagi berlangsungnya proses pembentukan dan penanaman nilai – nilai serta pembentukan kepribadian. (QS. At-Tahrim {66} : 6)

5.      Terwujudnya ketentraman, cinta yang suci dan kasih sayang yang dapat dicari setelah menikah.

Catatan :  Allah telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, oleh karena itu manusia tidak

                   perlu gelisah dalam masalah jodoh (QS. Yasin {36} : 36), kalau ingin mendapat pasangan

                   yang baik, maka harus mengkondisikan dirinya menjadi pribadi yang baik, pasangan anda

                  adalah cermin diri anda sendiri (QS.  An-Nuur {24} : 3 dan 26)

 

C.     Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menuju Pernikahan

1.      Adanya kesiapan fisik dan mental. Usia ideal 20-25 bagi wanita dan 25-30 bagi pria.

2.      Kematangan mental, kepribadian dan tingkat pendidikan.

 

D.    Fakto-fakto Penting dalam Memilih Pasangan

1.      Satu Agama (QS> Al-Baqoroh {2} : 221)

2.      Pilih pasangan yang baik kepribadiannya (QS. An-Nur {24} : 3 dan 26)

3.      Tetap memelihara kesucian diri dalam pergaulan

4.      Memohon pertimbangan Allah melalui salat istiqaroh

 

E.     Hukum Pernikahan

1.      Jaiz/Mubah. Hukum ini adalah hukum asal pernikahan artinya setiap orang yang telah memenuhi syarat maka ia boleh menikah.

2.      Sunnah. Artinya, setiap orang yang telah memenuhi syarat nikah dan ia tidak khawatir akan berbuat zina maka apabila ia nikah berpahala dan kalau menunda tidak apa-apa.

3.      Wajib. Hukum ini dikenakan bagi orang yang telah memenuhi syarat nikah dan ia merasa khawatir akan berbuat zina maka ia wajib segera menikah.

4.      Makruh. Hukum ini berlaku bagi orang yang sudah punya keinginan nikah tapi belum mampu member nafkah (sandang, pangan, papan)

5.      Haram. Hukum ini dikenakan bagi orang yang menikah karena maksud jahat baik bagi dirinya sendiri maupun bagi pasangannya.

 

 

                                                                             18

F.     Tujuan Nikah

1.      Tercapainya ketentraman batin dan ketenangan fikiran (QS. Ar-Rum {30} : 21)

2.      Untuk memperoleh keturunan yang sah (QS. Asy-Syura{42} : 11 dan 49-50)

3.      Sebagai alat kendali manusia agar tidak terjerumus pada maksiat (QS. Al-Isra’{17} : 32)

4.      Untuk mewujudkan keluarga sakinah (HR. Jama’ah)

5.      Memenuhi kebutuhan seksual yang sah dan suci (QS. Al-Baqoroh {2} : 187 dan 223)

 

G.    Rukun Nikah

1.      Aqad atau Sighat atau “ijab Kabul” yaitu perkataan wali perempuan yang diterima oleh mempelai laki-laki, termasuk didalamnya mahar atau mas kawin yaitu pemberian wajib calon suami kepada calon istri yang diucapkan dalam akad nikah bias tunai, hutang, bias juga berupa materi atau jasa (QS. Al-Baqoroh {2} : 236-237)

2.      Adanya calon suami

3.      Adanya calon istri

4.      Ada dua orang saksi

5.      Adanya wali bagi mempelai perempuan. Saksi dan wali dengan syarat :

a.      Beragama Islam (QS. Al-Maidah {5} : 51)          d. Merdeka

b.      Baligh                                                                  e. Laki-laki

c.       Berakal sehat                                                      f. Adil dan tidak fasik

 

 Wali terbagi 2 yaitu wali nasab dan wali hakim.

A.       Wali nasab terdiri dari :

a.      Bapak kandung

b.      Kakek (Ayah dari bapak)

c.       Saudara laki-laki kandung

d.      Saudara laki-laki sebapak

e.      Anak laki-laki dari saudara laki-laki kandung

f.        Anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak

g.      Saudara laki-laki bapak (paman)

h.      Anak laki-laki paman (dari pihak bapak)

B.      Wali Hakim, Yaitu wali yang berdasarkan wewenang.

 

H.    Orang-Orang Yang Tidak Boleh Dinikahi (Mahram)  

Al-Qur’an (QS. An-Nisa’{4} : 23-24) telah menjelaskan tentang siapa yang tidak boleh dinikahi (Mahram) terdiri dari 4 kelompok :

1.      Mahrom karena keturunan terdiri dari :

a.      Ibu kandung dan seterusnya keatas

b.      Anak perempuan dan seterusnya kebawah

c.       Bibi, saudara perempuan ibu atau saudara perempuan bapak

d.      Keponakan, Anak perempuan dari saudara perempuan atau saudara laki-lak

 

19

2.      Mahrom karena hubungan pernikahan

a.      Ibu dari istri (mertua)

b.      Anak tiri (bila ibunya sudah dicampuri)

c.       Istri bapak atau ibu tiri

d.      Istri anak atau menantu

3.      Mahrom karena susuan

a.      Ibu yang menyusui

b.      Saudara perempuan sesusuan

4.      Mahrom karena maksud dikumpul atau dimadu

a.      Saudara perempuan istri

b.      Bibi perempuan dari istri

c.       Keponakan perempuan dari istri

 

I.       Hak dan Kewajiban Suami Istri

1.      Kewajiban suami :

a.      Menjadi pemimpin, memelihara dan membimbing keluarga serta menjaga dan bertanggungjawab atas kesejahteraan keluarga (QS. At-Tahrim {66} : 6)

b.      Memberi nafkah, pakaian dan tempat tinggal kepada istri dan anak-anak yang diusahakan secara maksimal (QS. Al-Baqoroh {2} : 168 dan 172)

c.       Bergaul dengan istri secara ma’ruf dan memperlakukan keluarganya dengan cara terbaik.

d.      Memberi kebebasan berfikir dan bertindak pada istri sepanjang tidak bertentang dengan norma Islam, membantu tugas-tugas istri dan tidak mempersulitnya.

2.      Kewajiban Istri :

a.      Taat dan patuh pada perintah suami sesuai dengan ajaran Islam

b.      Selalu menjaga kehormatan diri dan keluarga

c.       Bersyukur atas nafkah yang diterima dan menggunakan dengan sebaik-baiknya

d.      Membantu suami dan mengatur rumah tangga sebaik mungkin

3.      Kewajiban bersama Suami dan Istri :

a.      Memelihara dan mendidik anak dengan sebaik-baiknya

b.      Berbuat baik terhadap mertua, ipar dan kerabat lainnya baik dari suami atau istri

c.       Setia dalam hubungan rumah tangga dan memelihara keutuhannya

d.      Saling bantu antara keduanya (QS. At-Tahrim {66} : 6, QS. An-Nisa’ {4} : 36 dan  QS. Al-Maidah {5} : 2)

 

 

                                                                          20

 

J.       Talaq (Perceraian)

 

1.      Pengertian Talaq dan Hukumnya

Talaq atau perceraian adalah : memutuhkan tali ikatan pernikahan. Hukum asal talaq adalah makruh.

Hukum Talaq ada 4 :

a.      Wajib.  Apa bila terjadi perselisihan antara suami istri yang tidak bisa  didamaikan dan hakim memandang perlu untuk bercerai

b.      Sunnah, apabila suami tidak sanggup lagi menunaikan kewajibannya atau perempuan tidak bias menjaga kehormatan dirinya.

c.       Haram, apabila istri dalam keadaan :

-          Haid atau Hamil

-          Keadaan suci yang dicampuri

d.      Makruh, yaitu hokum asal talaq

2.      Bentuk-bentuk Talaq

a.      Talaq atau perceraian yang dijatuhkan suami atas kehendak sendiri. Bagi suami yang menjatuhkan talaq seperti ini berkewajiban :

-          Memberi sesuatu yang berharga pada istrinya sesuai kemampuannya, pemberian ini disebut Mut’ah (QS. Al-Baqoroh {2} : 236 dan 241)

-          Bertindak bijaksana pada bekas istrinya (QS. Ath-Talaq {65} : 1-7

b.      Talaq Khulu’ (Talaq Tebus) Yaitu : talaq yang dijatuhkan suami karena menyetujui permintaan cerai dari istri, dan istri membayar tebusan atau mengembalikan mahar.

c.       Talaq Fasakh, yaitu : yaitu talaq yang dijatuhkan suami atas pengaduan istri. Talaq Fasakh dapat dilakukan karena :

-          Adanya aib atau cacat pada salah satu pihak

-          Suami tidak mampu member nafkah (Qs. Al-Ahzab {33} : 49

-          Adanya penipuan atau penghianatan dari pihak suami

-          Diketahui adanya hubungan mahram antara suami istri (QS. An-Nisa’ {4} : 23

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                        21

3.      Jumlah atau Batasan Talaq

Suami istri yang telah bercerai, masih mungkin untuk rujuk kembalai namun untuk menghindari kesewenang-wenangan maka jumlah talak yang membolehkan suami rujuk kembali perlu dibatasi.

Bila terjadi talaq  satu dan dua yang disebut talaq raj’I maka suami b oleh rujuk kembali pada istri yang telah dicerai, sedangkan bila terjadi talaq ketiga yang disebut talaq ba’in maka suami tidaka boleh rujuk kembali pada istri yang telah dicerai kecuali dengan syarat istri yang dicerai telah menikah dengan orang lain atas dasar suka sama suka, telah bergaul sebagai mana mestinya dan telah bercerai lagi (QS. Al-Baqoroh : {2} : 230) m

4.      Cara Menjatuhkan Talaq.

Ada dua cara menjatuhkan talaq :

-          Dengan kata-kata yang jelas (sharih), misalnya suami berkata pada istrinya, Engkau saya talaq, atau Engkau saya ceraikan, maka jatuhlah talaqnya satu meskipun tidak disertai niat untuk bercerai.

-          Dengan kata-kata samara tau sindiran (kinayah), misalnya Pergilah engkau dari sini atau Pulanglah Engkau kerumah orang tuamu, maka talaqnya belum sah bila tidak disertai niat untuk bercerai.

Beberapa Istilah Lain Tentang Talaq :

a.      Li’an : yaitu suami dan istri saling melaknat. Suami menuduh istrinya berzina tapi tidak dapat menunjukkan 4 orang saksi maka dia harus bersumpah dengan 4 X sumpah atas nama Allah.

 

22

 

 kemudian istri menolak dengan 4 X sumpah seperti diatas, setelah itu maka suami istri menjadi bercerai. (QS. An-Nur {24} : 6 – 9)

 

 

 

b.      Zhihar yaitu : mengharamkan istri dengan menyamakannya seperti ibu sendiri seperti mengatakan “kamu seperti punggung ibuku”, maka untuk menghalalkan kembali suami wajib membayar kifarat (QS. Al-Mujadalah {58} : 3-4)

 

 

 

 

 

 

 

                                                       23

 

c.       Ila’ yaitu seorang suami yang marah sampai mengharamkan istrinya bergaul dengannya atau bersumpah hendak menjauhkan dirinya dari istrinya. Jika ingin menggauli kembali istrinya, wajib membayar kifarat sumpah (QS. Al-Baqoroh {2} : 226 – 227)maupun

d.      Ihdad yaitu berkabungnya istri karena suaminya wafat, tidak memakai wangi-wangian dan sebagainya.

e.      Ta’lik Talaq yaitu seorang suami yang melanggar janjinya pada saat akad nikah, misalnya tidak member nafkah istri 6 bulan berturut-turut, atau menyakiti badan istrinya dan istrinya tidak ridha kemudian mengadukan ke Pengadilan Agama, maka jatuh talak satu.

 

K.     Iddah.

1.      Pengertian Iddah adalah masa menanti bagi perempuan yang dicerai suaminya (baik cerai hidup maupun cerai mati) dengan maksud untuk mengetahui apakah istri yang dicerai itu hamil atau tidak.

2.      Macam-macam iddah :

a.      Perempuan yang ditinggal mati suaminya iddahnya ada 2 macam :

-         Apabila sedang hamil, iddahnya sampai anak lahir.

-         Apabila tidak hamil, iddahnya 4 bulan 10 hari (QS. Al-Baqoroh {2} : 234)

b.      Perempuan yang dicerai suaminya, iddahnya :

-         Apabila sedang hamil, iddahnya sampai anak lahir.

-         Apabila tidak hamil, iddahnya 3 X suci (quru’) (QS. Al-Baqoroh {2} : 228)

c.       Apabila tidak haid, iddahnya 3 bulan.

 

 

 

 

 

                                                                  24

3.      Kewajiban suami dalam masa Iddah

Selama masa iddah suami berkewajiban member nafkah lahir dengan ketentuan :

-                Memberi nafkah, pakaian dan tempat tinggal bagi istri yang ditalaq raj’i

-                Memberi tempat tinggal bagi istri yang ditalaq 3 atau talaq tebus apabila tidak

Hamil

-                Memberikan nafkah, pakaian dan tempat tinggal bagi istri yang ditalaq 3 dan

Talaq tebus apabila ia hamil (QS. At-Talaq {65} : 1, 6  - 7)

 

L.      Ruju’

 

1.      Pengertian Ruju’ ialah :

Kembalinya suami pada istri yang telah ditalaq baik talaq satu maupun talaq dua.

2.      Hukum Ruju’

Asal hukum ruju’ adalah “mubah” (boleh), bias jadi sunnah apabila maksud ruju’ untuk memperbaiki hubungan antara keduanya, bisa jadi makruh apabila perceraian lebih bermanfaat bagi kehidupan mereka dan bisa menjadi haram apabila menyebabkan salah satu dari pasangan itu teraniaya.

3.      Rukun Ruju’ .

a.      Istri disyaratkan :

·         Sudah pernah bercampur suami istri

·         Dalam talaq Raj’i

·         Masih dalam masa iddah

b.      Suami disyaratkan :

Baligh, berakal dan atas kemauan sendiri (tanpa paksaan)

c.       Sighat (ucapan) :

·         Sharih (terang-terangan)

·         Kinayah (sindiran) (QS. Al-Baqoroh {2} : 228 dan At-Talaq {65} :2)

 

M. Hadhanah

 

Pengertian hadhanah adalah “mengasuh dan memelihara anak kecil yang belum dapat mengatur dan menjaga dirinya sendiri.

 

 

 

 

                                                                 25

Masalah hadhanah timbul apabila terjadi perceraian orang tua dan meninggalkan anak yang masih kecil, bila keadaan seperti ini terjadi maka ibu lebih berhak untuk mengasuh anaknya namun nafkah belanjanya tetap menjadi tanggung jawab ayahnya. (HR. Abu Daud dan Hakim)

Syarat – syarat menjadi Hadhanah :

1.      Berakal sehat                                                            4. Dapat menjaga kehormatan dirinya

2.      Merdeka.                                                       5. Dapat dipercaya.

3.      Melaksanakan ajaran agama.                      6. Tinggal bersama anak yang dididiknya.

 

N.     Hikmah Pernikahan.

Pernikahan mengandung hikmah antara lain :

1.      Menentramkan hati dan fikiran karena hidup penuh suasana cinta dan kasih saying.

2.      Menyalurkan hajat fitrah biologis yang sah dan mendapatkan keturunan guna melanjutkan hidup.

3.      Membina silaturrahim kedua keluarga, dan masing-masing bertanggung jawab sesuai dengan fungsi dalam rumah tangga.

4.      Menjaga diri dari penyakit-penyakit kelamin yang merusak fisik dan mental serta terhindar dari krisis moral dalam masyarakat.

 

O.     Perkawinan Menurut UU No. 1 tahun 1974.

 

1.      Sahnya Perkawinan.

Dalam UU. No. 1 tahun 1974 pasal 2 ayat (1) ditegaskan bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hokum agama masing-masing. Selanjutnya dijelaskan :

a.      Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum Islam.

b.      Perkawinan menurut hukum Islam adalah aqad yang sangat kuat untuk mentaati

Perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.

 

2.      Pencatatan Perkawinan.

Dalam UU. No. 1 tahun 1974 pasal 2 ayat (2) dinyatakan bahwa setiap perkawinan di catat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku, kemudian dirinci agar :

a.      Terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Indonesia.

b.      Pencatatan pernikahan harus dilakukan oleh pegawai pencatat nikah.

c.       Setiap perkawinan harus dilakukan dihadapan pengawasan pegawai pencatat nikah.

d.      Pernikahan yang dilakukan diluar pengawasan pegawai pencatat nikah tidak mempunyai kekuatan hukum. 

26

3.      Tujuan dan Batasan – batasan Poligami

Dalam UU no. 1 tahun 1974 pasal 3 ayat (12) dinyatakan bahwa “Pada azasnya seorang suami hanya boleh mempunyai seorang istri dan seorang istri hanya boleh mempunyai seorang suami”. Namun seorang suami boleh beristri lebih dari satu dengan mengajukan permohonan pada pengadilan dengan syarat :

a.      Adanya persetujuan dari pihak istri

b.      Adanya kepastian bahwa suami mampu memjamin keperluan hidup istri-istri dan anak-anaknya.

c.       Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil tehadap istri-istri dan anak-anaknya.

 

Pengadilan akan member izin poligami apabila :

a.      Istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri.

b.      Istri menderita cacat badan atau penyakit yang tidak bias disembuhkan

c.       Istri tidak dapat melahirkan keturunan.

 

 

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                        27

EVALUASI KOGNITIF SKILL

 

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan benar dan tepat !

 

1.      Jelaskan pengertian nikah menurut syariat Islam !

 

2.      Nikah adalah sunnah Rosul, jelaskan tujuannya !

 

3.      Pernikahan dinyatakan sah apabila memenuhi 5 rukun nikah, coba tuliskan !

 

4.      Bagaimana cara memilih jodoh (suami atau istri) menurut ajaran Islam !

 

5.      Tuliskan 3 macam kewajiban suami terhadap istri !

 

6.      Jelaskan pendapatmu tentang hidup bebas tanpa nikah yang banyak terjadi di masyarakat dalam hubungannya dengan hukum Islam!

 

7.      Apakah yang dimaksud dengan mahram !

 

8.      Thalaq fasakh dapat dilakukan dengan 4 hal, jelaskan !

 

9.      Tuliskan perbedaan thalaq raj’I dan thalaq ba’in serta konsekwensinya masing-masing!

 

10.  Jelaskan apa yang dimaksud dengan ruju’ dan tuliskan macam-macam iddah !

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Modul Kelas X

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

MODUL   2

BERIMAN KEPADA MALAIKAT

Tujuan Akhir Pembelajaran

1.    Mampu menjelaskan pengertian iman pada malaikat.

2.    Menyebutkan asal kejadian, tugas-tugas, sifat dan cirri malaikat.

3.    Menjelaskan fungsi iman pada malaikat dalam kehidupan sehari-hari.

4.    Menunjukkan tanda-tanda penghayatan terhadap fungsi iman pada malaikat dalam prilaku sehari-hari.

5.    Menyebutkan kedudukan dan perbedaan manusia dan malaikat.

 

 

A.   Deskripsi Materi

Islam mengajarkan untuk mempercayai adanya malaikat-malaikat Alloh SWT. Malaikat adalah makhluk ghaib dan hamba Alloh SWT. Alloh menciptakannya dari cahaya dan diberi ketaatan yang sempurna serta kekuatan untuk melaksanakan ketaatan itu (QS> Al-Ambiya’ {21} : 19-20). Malaikat juga sangat istimewa disbanding makhluk lain karena sangat patuh pada Alloh SWT. (QS. At-Tahrim {66} : 6 dan QS. An-Nahl {16} : 49-50)

Iman pada malakat menjadi bagian dari rukun iman. Tidak sempurna iman seseorang kecuali jika ia beriman dengan wujud malaikat, nama-namanya, sifat-sifatnya yang kita kenali dan mengimani tugas-tugas yang diperintahkan Alloh kepadanya.

Keberadaan malaikat bagi manusia membawa keberkahan tersendiri, karena malaikat member kabar gembira dan memperkokoh kedudukan orang beriman (QS. Al Fushilat {41} : 30-31), memohonkan ampun serta menolong orang-orang yang senantiasa dalam kebenaran. Sebaliknya jika ada pihak yang menzoliminya, tanpa perlawanan karena ia dipihak yang lemah, ia bersikap tawakkal karena malaikat telah mencatat amal kebaikannya.

B.   Uraian Materi

 

1.    Pengertian Iman pada Malaikat.ialah : percaya dan yakin bahwa Alloh telah menciptakan malaikat yang diberi tugas tertentu, untuk mengatur dan mengurus perjalanan alam semesta. Seperti mengatur udara, menurunkan hujan, mencabut nyawa dan mencatat segala perbuatan manusia. (QS. Al Baqoroh {2} : 285 dan An-nisa’ {4} : 136).

  

      Dalam sejarah diperoleh gambaran bahwa sejak zaman purbakala sudah ada kepercaya-

      an manusia kepada yang ghaib. Misalnya bangsa Yunani (Greek) mempercayai dewa

      Ares sebagai dewa peerangan, suku kan’an dengan dewa Ba’al, penduduk Meksico de –

ngan dewa mataharinya bahkan ada yang mempercayai bahwa dewa itu sebagai anak perempuan tuhan, yaitu bangsa Quraisy.

 

Untuk meluruskan ajaran yang salah tersebut Alloh menurunkan Islam dengan ajaran Tauhidnya. Melalui paham ini jelaslah bahwa pengabdian hanya semata-mata kepada Alloh SWT. Zat yang maha esa, bukan kepada benda tertentu sebagai mana yang di anut orang-orang terdahulu.

 

2.    Asal Kejadian Malaikat

 

Manusia diciptakan Alloh dari tanah (QS. Al Hijir {15} : 28 dan QS. Shaad {38} :71). Jin diciptakan Alloh dari Nar yang panas (QS. Al Hijir {15} : 27 dan QS Ar Rahman {55} :15)

Malaikat diciptakan dari Nur (cahaya) berdasarkan hadits Rasululloh dari Aisyah :

“Malaikat itu diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, sedangkan Adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan pada kamu semua” (HR. Muslim).   

 

Al-Qur’an dan Hadits telah memberi gambaran bahwa malaikat Alloh itu sangat banyak jumlahnya dan tidak ada yang dapat menghitungnya kecuali Alloh SWT (QS.Al-Muddatstsir {47} : 31). Dalam Hadits Bukhori Muslim diriwayatkan dari Anas RA tentang kisah Mi’raj bahwa Alloh telah memperlihatkan “Al-Baitul Ma’mur” di langit kepada Nabi Muhammad Saw. Didalamnya terdapat 70.000 Malaikat yang setiap hari melakukan Sholat.

 

Fungsi dan tugas malaikat yang dijelaskan Al-Qur’an dan Hadits antara lain adalah :

1.    Menyampaikan wahyu menjadi tugas malaikat Jibril (QS. An-Najm {53} : 6-10), banyak nama dan gelar yang dimilikinya yaitu :

a.    Ruhul Amin (QS. Asy-Syu’ara {26} : 193)

b.    Ruhul Qudus (QS. An-Nahl {16} : 102)

c.    An-Namus (sebagian riwayat Waraqah bin Naufal).

2.    Mendoakan kebaikan dan menjadi kawan orang-orang beriman (QS. Al-Mukmin {40} : 7, QS. Fushilat {41} : 31)

3.    Melaksanakan hukuman Alloh SWT kepada manusia dan menyiksa orang-orang kafir (QS. Muhammad {47} : 27, QS. Az-Zukhruf {43} : 77)

4.    Memohon ampun bagi manusia (QS. Asy-Syura {42} : 5, QS. Al-Mukmin {40} : 7-9)

5.    Mencatat segala amal perbuatan manusia (QS. Al-Infithar {82} : 10-12, QS. Ar-Ra’d {13} : 10-11).

6.    Mengatur dan menjaga seluruh perjalanan alam semesta, sehingga segala sesuatunya berjalan dengan baik (QS. Az-Zumar {39} ; 75)

7.    Mencabut nyawa manusia dan makhluk hidup lainnya bila telah dating waktunya. (QS. As-Sajadah {32} : 11)

8.    Meniup sangkakala (terompet) saat datangnya kiamat dan yaumul Ba’ast (QS. Yasin{36} : 51 dan QS Al-Kahfi {18} : 99).

9.    Mengajukan pertanyaan pada manusia dialam kubur(QS.Yasin{36} 51).diantara pertanyaan yang diajukan adalah siapa Tuhanmu, Siapa Nabimu, kemana arah Kiblatmu dan apa yang kau jadikan pedoman hidupmu. Terjawab tidaknya pertanyaan yang diajukan tergantung pada amal ibadah yang dikerjakan manusia di dunia.

Bagi manusia yang menjalankan perintah Alloh dan menjauhi larangan-Nya terasa mudah menjawabnya sebagai mana Hadits Nabi Muhammad SAW.

“Seorang muslim bila ditanya dialam kubur (dengan mudah) member kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Alloh dan Muhammad utusan-Nya. Itulah maksud dari firman Alloh, Alloh menegakkan iman seorang mukmin dengan ucapan yang teguh di kehidupan dunia dan akhirat (QS. Ibrahim {14} : 27, dan HR.Bukhari Muslim).

10.  Memberi kedamaian dan kenikmatan bagi manusia yang menempuh jalan kebaikan selama hidup di dunia (QS. Az-Zumar {39} : 73)

 

3.    Sifat dan Ciri – Ciri Malaikat.

 

Sebagai makhluk ghaib (immaterial), malaikat dikenal dengan beberapa cirri diantaranya:

1.    Makhluk yang selalu patuh karena suci dari keinginan dan nafsu (QS. An-Nahl {16} : 50, QS. Al-Anbiya’ {21} : 27, QS. At-Tahrim {66} :6)

2.    Bisa berbicara dan menjelma menjadi manusia dengan izin Alloh (QS. Maryam {19} : 17 – 21.

3.    Makhluk yang mulia dan mempunyai kedudukan tertentu (QS. Al-Anbiya’ {21} : 26-28, dan QS. Ash-shaffat {37} : 164-166).

4.    Makhluk yang tidak pernah melakukan dosa dan maksiat (QS. At-Tahrim {66} : 6.

5.    Makhluk yang tidak sombong dan selalu bertasbih pada Alloh (QS. Al-A’raf {7} : 206)

 

4.    Fungsi Iman Kepada Malaikat dalam kehidup sehari-hari.

 

Tidak akan berfungsi pengakuan iman tanpa dibuktikan dengan amaliah sehari-hari.        Artinya keberadaan iman mengantarkan manusia mengendalikan prilakunya dari jalan yang tidak semestinya dilakukan. Demikian pula iman kepada malaikat harus berfungsi dalam kehidupan manusia.

 

Adapun fungsi iman pada malaikat adalah :

1.    Meningkatkan martabat manusia, karena pasti akan menambah pengetahuan dan wawasan manusia.

2.    Memperkokoh jiwa tauhid dan terhindar dari penyakit tahayul dan khurafat.

3.    Menjalani hidup dengan optimis dan penuh harap meskipun banyak cobaan meng hadang (QS. Ar-Ra’d {13} : 11 , QS Al-Infithar {82} : 10-14)

4.    Menempuh hidup dengan hati-hati dan penuh perhitungan karena ada malaikat yang mencatat setiap perbuatan.

5.    Mendidik disiplin dan membiasakan taat pada aturan Alloh

 

 

 

 

 

 

5.    Kedudukan Manusia dan Malaikat

 

Kedudukan manusia berbeda dengan malaikat bila titinjau dari segi keberadaan dan tugasnya antara lain :

 

1.    Dari segi ketakwaan, manusia yang takwa lebih mulia dari malaikat karena orang yang takwa mampu mengendalikan nafsunya sedangkan malaikat tidak memiliki nafsu. Itu juga sebabnya manusia diberi peran sebagai khalifah di bumi. (QS. Al-Baqoroh {2} : 30 -34) sebaliknya derajat manusia bisa lebih hina dari pada binatang bila tidak bisa mengendalikan nafsunya.

2.    Dalam rangka memerankan fungsi khalifah manusia diawasi oleh malaikat yang menjalankan perintah Alloh untuk mengatur alam semesta.

 

6.    Contoh Prilaku Beriman Pada Malaikat

 

1.    Berprilaku baik dan jujur, karena merasa selalu diawasi oleh malaikat.

2.    Taat melaksanakan perintah Alloh SWT sebagai mana dicontohkan oleh para malaikat.

3.    Optimis dalam menghadapi kehidupan karena yakin ada penolong dan pelindung.

 

7.    Perilaku yang Mencerminkan beriman pada malaikat dalam prilaku sehari-hari.

 

1.    Dapat mengetahui keagungan Alloh SWT. Kekuatan dan Kekuasaan-Nya. Kebesaran makhluk pada hakikatnya adalah dari keagungan sang pencipta.

2.    Selalu bersyukur kepada Alloh SWT atas perhatian-Nya terhadap manusia, sehingga menugasi malaikat untuk memelihara, mencatat, merekam amal-amal dan berbagai kemaslahatannya yang lain.

3.    Selalu cinta kepada para malaikat karena ibadah yang mereka lakukan kepada Alloh SWT, dan menjadikannya sebagai dalam kehidupan kita.

 

.                 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Materi kelas XII

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

KOMPETENSI  I

KEIMANAN

 

IMAN KEPADA HARI AKHIR

TUJUAN PEMBELAJARAN

1.       Menjelaskan pengertian hari akhir menurut bahasa, istilah dan tanda-tandanya.

2.       Menjelaskan dalil naqli tentang iman pada hari akhir.

3.       Menjelaskan tentang hari akhir berdasarkan Al-Qur’an dan teori ilmu pengetahuan.

4.       Menjelaskan tentang tahapan (periode) hari akhir.

5.       Mengamalkan tanda-tanda penghayatan terhadap iman pada hari akhir dalam prilaku sehari-hari.

URAIAN MATERI

A.             Pengertian hari akhir menurut bahasa, istilah dan tanda-tandanya.

            Hari akhir menurut bahasa artinya Hari penghabisan (QS.Al-baqoroh (2): 177) juga disebut hari

                Pembalasan (Qs.Al-Fatiha(1): 4). Sedangkan menurut istilah hari akhir adalah : Hari mulai hancurnya alam semesta berikut isinya dan berakhirnya kehidupan seluruh makhluk Allah SWT. 

                Hari akhir juga disebut hari kiamat, yaitu hari penegakan hukum Allah yang seadil-adilnya (QS.

                Al-Mumtahanah(60): 3). Adapun pengertian iman pada hari akhir adalah : Percaya dengan pe-

                nuh keyakinan adanya hidup yang kekal abadi di akhirat kelak.

 

                Selanjutnya tanda-tanda atangnya hari kiamat adalah :

a.       Tanda-tanda kiamat sughro (tanda-tanda yang masih jauh datangnya kiamat)

1.       Hambasahaya wanita melahirkan anak majikannya.

2.       Orang berlomba-lomba membangun gedung-gedung tinggi.

3.       Laki-laki berpenampilan seperti perempuan dan perempuan seperti laki-laki.

b.      Tanda-tanda kiamat kubro (tanda-tanda yang sudah dekat terjadinya kiamat) yaitu :

1.       Datangnya Ya’juj dan Ma’juj.

2.       Malam lebih panjang dari pada siang.

3.       Matahari terbit dari sebelah barat

4.       Munculnya imam mahdi.

5.       Turunnya Nabi Isa yang akan memerangi orang yang memusuhi Islam.

 

 

1

B.              Hari akhir manurut Al-Qur’an dan teori ilmu pengetahuan.

Hari akhir menurut Al-Qur’an terbagi dua yaitu :

a.       Kiamat Sughra (kecil) ialah : Peristiwa datangnya kematian bagi setiap makhluk termasuk

Manusia yang bersifat local dan individual (QS. Ali Imran (3) : 185)

b.      Kiamat Kubro (besar) ialah : Peristiwa berakhirnya kehidupan seluruh makhluk dan hancur

Leburnya alam semesta secara total dan serentak. (QS.Al-Zalzalah(99) :1-5)dan (QS.Al-

Qori’ah (101) : 1-5)

 

                Hari akhir menurut teori ilmu pengetahuan.

a.       Menurut Ilmu Geologi.

Bumi terdiri dari gas yang berputar, setelah diam, gas itu dingin, maka gas yang berat mengendap kebawah dan yang ringan berada di atas. Secara evolusi gas bagian luar me –

ngeras menjadi batu, kerikil, pasir dll, sedangkan ditengah masih panas, zat panas berca

pur larva dan lahar batu serta pasir panas. Sementara daya tarik matahari terhadap bumi

berkurang maka bumi akan bergeser dari matahari akibat putaran bumi semakin cepat tak

terkendali, sehingga jatuh seperti meteor, menyala dan hancur.

b.      Menurut Teori Fisika.

Jarak matahari dengan bumi kira-kira 150 juta km namun sinar matahari dipancarkan ke

Angkasa dan sekitarnya 5,7 x 1027 kalori = 5853,9 kalori / menit dan mampu menyala se-

Lama 50 milyar tahun dengan panas 15 0C. Kalau suatu ketika matahari tidak muncul atau

Cahaya redup karena tenaga atau sinarnya habis, maka tidak ada angin dan awan yang ber

akibat hujan tidak turun. Selanjutnya gunung-gunung akan meletus, ombak bergulung-gu-

lung,air laut naik maka hancurlah bumi.

 

C.           Periode hari akhir

1.       Yaumul Ba’ats, yaitu : Hari dibangkitkannya seluruh makhluk dari alam kuburnya masing-

masing. (QS.Al-Mujadalah (58) : 6)

2.       Yaumul Hasyar (Alam mahsyar). Yaitu : Hari berkumpulnya manusia setelah dibangkitkan dari kuburnya masing-masing, kemudian manusia digiring ketempat yang luas yaitu padang mahsyar .(QS. Al-Kahfi (18): 47)

3.       Yaumul Hisab dan Mizan. Yaitu :

Yaumul Hisab berarti, hari dihitungnya semua perbuatan manusia selama hidup di dunia, pada hari itu semua angota tubuh menjadi saksi atas segala perbuatan yang telah dilakukan

selama hidup di dunia. (QS.An-Nur (24) : 24) lalu setiap orang akan menerima buku catatan

yang berisi semua perjalanan hidup selama di dunia (QS-Al-Kahfi (18) : 49).

Yaumul Mizan berarti, Timbangan yang adil tentang kebajikan dan kejahatan yang pernah

dilakukan oleh setiap orang. (QS. Al-Ambiya’ (21) : 47).

 

 

2

 

 

 

4.       Ash-hirat yaitu : Jembataan yang terbentang diatas api neraka menuju surga. Mudah atau sulitnya melewati Ash-Shirat tergantung pada amal yang dilakukan manusia.

5.       Yaumul Jaza’ dan Fashl.

Yaumul jaza’ yaitu : Suatu tahapan semua manusia akan menerima keputusan Allah (Jaza’) tentang balasan yang diterima seseorang sesuai dengan amalnya selama hidup di dunia.

Yaumul fashl yaitu : Keputusan Allah terhadap nasib orang beriman dan orang kafir di akhirat kelak sehingga menjadi jelas manusia yang beruntung dan yang celaka. (QS. Al-Mukmin (40) : 17). Balasan kebaikan adalah surga dan mereka kekal didalamnya dan ba -

Lasan kejahatan adalah neraka yaitu tempat kembali yang buruk bagi orang-orang yang durhaka kepada Allah.

 

D.    Tanda-tanda penghayatan terhadap iman pada hari akhir dalam prilaku sehari-hari.

1.       Beriman pada hari akhir akan menumbuhkan rasa tanggung jawab yaitu : merasa bahwa hidup di dunia hanyalah sementara saja. Setiap perbuatan akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah, sehingga sikap dan prilaku sehari-hari hari harus didasarkan pada tuntunan agama.

2.       Mengimani hari akhir membuat manusia sadar bahwa manusia tidak ada artinya kalau bukan karena kebesaran Allah sehingga dapat menghilangkan sikap sombong, takabur, dan mem banggakan diri dengan apa yang dimiliki.

3.       Mempercayai adanya hari akhir membuat manusia menghindari segala perbuatan yang tidak baik.

4.       Mendorong manusia untuk selalu melakukan amal soleh.

5.       Tumbuhnya prilaku akhlakul karimah.    

 

 

 

 

 

 

 

 

3

 

A.             Evaluasi Kognitif Skill

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar dan tepat !

1.       Jelaskan pengertian iman pada hari akhir !

 

2.       Tuliskanlah salah satu dalil naqli tentang hari akhir !

 

3.       Jelaskanlah teori hari akhir menurut Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan!

 

4.       Jelaskanlah tahapan hari akhir yang akan dilalui manusia di akhirat kelak!

 

5.       Tuliskanlah 4 tanda-tanda penghayatan terhadap iman pada hari akhir!

 

6.       Jelaskan secara ringkas teori hari akhir menurut ilmu geologi!

 

7.       Jelaskan secara ringkas teori hari akhir menurut ilmu fisika!

 

8.       Jelaskan apa yang kamu ketahui tentang surga dan neraka !

 

B.             Evaluasi Psikomotor Skill.

1.       Kegiatan individual.

 

a.       Tuliskan QS. Al-Mukmin (40) : 102 -103, QS. Al-Kahfi (18) : 49, QS. Al-Isra’ (17) : 49

QS. Al-Qori’ah (101) : 1-10 beserta terjemahannya, dan jelaskan kandungannya !

b.      Jelaskan tahapan hari akhir menurut Al-Qur’an.

 

2.       Kegiatan kelompok.

 

Diskusikanlah perbedaan dan persamaan proses terjadinya kiamat menurut Al-Qur’an dan IPTEK, kemudian buat laporan untuk dipresentasikan !

 

 

 

 

 

 

4

 

 

 

KOMPETENSI  I

KEIMANAN

 

IMAN KEPADA QADHA DAN QADAR

TUJUAN PEMBELAJARAN :

1.       Menjelaskan pengertian iman pada qadha dan qadar.

2.       Menjelaskan dalil aqli dan naqli tentang iman pada qadha dan qadar

3.       Menjelaskan pengertian ikhtiar dan tawakkal.

4.       Menjelaskan hubungan qadha, qadar, ikhtiar, doa dan tawakkal.

5.       Menunjukkan tanda-tanda penghayatan iman pada qadha dan qadar dalam prilaku sehari-hari.

 

A.    Pengertian Iman Kepada Qadha dan Qadar

Qadha menurut bahasa berarti : Menentukan atau memutuskan, sedangkan menurut istilah artinya

memberi  kadar, aturan, atau ketentuan. Sedangkan menurut istilah berarti ketetapan Allah SWT. Terhadap makhluk-Nya tentang segala sesuatu.

 

Dalil tentang iman pada qadha dan qadar antara lain :

Q S. Ar-Ra’du (13) : 11, QS.At-Taubah (9) : 105, QS.Asy-Syams(91) : 7-10, QS. Al-Furqon (25) : 2,

QS. At-Thalaq (65) : 3.

 

B.    Hubungan Antara Takdir, Ikhtiar, Do’a dan Tawakkal

1.     Takdir yaitu : Segala ketentuan yang telah ditetapkan Allah atas makhluk-Nya. Karena manusia makhluk yang sempurna maka manusia diberi kebebasan memilih ketentuan (takdir) Allah yang telah ditetapkan berhasil atau gagal, bahagia atau sengsara, baik atau buruk, namun setiap pilihan itu akan dimintai pertanggung jawabannya.

 

 

5                                                                          

 

Takdir itu terbagi dua yaitu :

a.       Takdir mubrom yakni : takdir yang semata-mata ketentuan Allah seperti kematian, kela hiran,jenis kelamin, jodoh dll.

b.      Takdir Mu’allaq, yakni takdir yang tergantung pada ikhtiar dan potensi yang ada pada manusia seperti sembuh dari sakit bila berobat, sukses dalam berusaha, tingkat hidup, kecerdasan dsb.

2.     Ikhtiar. Adalah : Berusaha dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati dalam menggapai cita-cita dan tujuan. Allah SWT. Menentukan takdir, kita sebagai manusia wajib berikhtiar karena takdir itu berjalan menurut hukum sunnatullah artinya keberhasilan hidup sangat tergantung pada sejalan atau tidaknya dengan sunnatullah. Misalnya orang yang malas akan bodoh, tidak bekerja akan miskin, menyentuh api akan merasakan panas dll.

3.     Do’a. Yaitu : Iktiar batin yang dilakukan manusia berupa permohonan atau permintaan seorang hamba kepada khaliknya akan segala sesuatu. Dalilnya QS.Al-Baqoroh (2) : 186.

4.     Tawakkal. Yaitu : menyerahkan segala urusan dan hasil ikhtiarnya hanya kepada Allah SWT. Dalilnya QS. Ali-Imran (3) : 159.

 

C.      TANDA-TANDA PENGHAYATAN IMAN KEPADA QADHA DAN QADAR DALAM PRILAKU SEHARI-HARI.

1.       Menambah keyakinan manusia bahwa apa yang terjadi di alam ini tidak terlepas dari sunnatullah baik kauniyah yang dapat diteliti oleh manusia maupun qauliyah yang berdasarkan  keimanan.

2.       Meyakinkan manusia agar senantiasa berikhtiar atau berusaha dengan lebih giat lagi dalam menggapai cita-cita.

3.       Mendorong manusia untuk berdoa agar lebih focus pada apa yang ingin dicapai dengan izin Allah.

4.       Meyakinkan manusia agar selalu bertawakkaal kepada Allah atas segala ikhtiarnya, sehingga apabila gagal tidak berputus asa dan apabila berhasil selalu bersyukur dan tidak menjadi sombong.

5.       Menyadarkan manusia bahwa dalam hidupnya dibatasi oleh aturan-aturan Allah yang bertujuan untuk kebaikan manusia itu sendiri.

 

 

 

 

6

 

A.    Evaluasi Kognitif Skill

               Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar dan tepat !

1.       Jelaskan pengertian iman pada qadha dan qadar !

 

2.       Tuliskan salah satu dalil tentang iman pada qadha dan qadar !

 

3.       Jelaskan pengertian ikhtiar dan tawakkal

 

4.       Jelaskan hubungan qadha dan qadar, ikhtiar, do’a dan tawakkal !

 

5.       Jelaskan 4 sikap iman pada qadha dan qadar dalam kehidupan sehari-hari !

 

B.    Evaluasi Psikomotor Skill

 

1.       Kegiatan Individual.

Tuliskan QS. At-Taubah (9) : 105, QS. Ali-Imran (3) : 159, kemudian terjemahkan dan tuliskan isi kandungannya.

2.       Kegiatan Kelompok.

Buatlah 5 macam peristiwa yang menggambarkan kesalahan dalam memahami takdir dalam kehidupan sehari-hari, kemudian diskusikan dan presentasikan bagaimana upaya mengatasinya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Iman Pada Alloh

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

Normal
0
false

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

MODUL 1

BERIMAN KEPADA ALLOH  SWT

1.  TUJUAN PEMBELAJARAN

 

Setelah mempelajari modul ini peserta didik diharapkan dapat :

1.    Menjelaskan pengertian Iman kepada Alloh SWT.

2.    Menunjukkan ruang lingkup keimanan kepada Alloh dan tanda-tanda penghayatan dalam prilaku sehari-hari.

3.    Menjelaskan pengertian Asmaul Husna

4.    Menyebutkan 99 Asmaul Husna.

5.    Menjelaskan makna 9 Asmaul Husna : Al-‘Alim, As-Samii’, al-Bashir, Al-Hayyu, Al-Qoyyum, Al- Waahid, al-Qodir, Al-Muqaddim, dan Al- baaqi.

6.    Menunjukkan tanda-tanda penghayatan terhadap Asmaul Husna dalam prilaku sehari-hari.

 

A.  Deskripsi Materi

 

Seorang Muslim adalah orang yang menyerahkan dirinya secara total (kaffah) kepada Alloh SWT. Untuk mengesakan-Nya (QS. An-Nisa’ {4} : 105). Mengesakan Alloh SWT adalah “Bertauhid dullah”. Tauhid merupakan inti atau dasar dari seluruh tata nilai sehingga Islam dikenal sebagai agama tauhid. I’tikad dan keyakinan tauhid mempunyai konsekuensi dalam menata segala kegiatan, antara lain :

1.    Tauhid dalam ibadah dan doa (QS. Al-Fatihah {1} : 5).

2.    Tauhid dalam mencari nafkah dan berekonomi (QS. Hud {11} : 6, QS. Al-Baqoroh {2} : 284, QS. An-Nur {24} : 33}

3.    Tauhid  dalam melaksanakan pendidikan dan dakwah (Qs. Al-Qashash {28} : 56, QS. An-Nahl {16} : 37)

4.    Tauhid dalam berpolitik (Qs. Ali- Imran {3} : 26, QS. Yunus {10} : 65)

5.    Tauhid dalam menjalankan hokum (QS. Yusuf {12} : 40, 67)

6.    Tauhid dalam sikap hidup secara keseluruhan (QS. At-Taubah {9} : 18, QS. Al-Baqoroh {2} : 150, 208)

Tunduk dan patuh terhadap aturan-aturan Alloh SWT. Berarti mengikatkan diri terhadap aturan-aturan-Nya yang tertuang dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist demi kemaslahatan manusia itu sendiri (QS. Ali Imran {3} : 83, QS. Thaha {20} : 2).

Bagi manusia yang berkomitmen terhadap aturan Alloh SWT akan :

-          Mendapat derajat yang mulia (QS. Al-Isra’ {17} : 70)

-          Hidupnya benar dan lurus (istiqomah) (QS. Al-Isra’ {17} : 19)

-          Tepat tujuan pengabdiannya (QS. Al-An’am {6} : 163)

-          Bersih dan luhur budi pekertinya (HR. Ahmad)

-          Terpenuhi kebutuhannya dan pergaulan hidup dalam masyarakat secara baik (QS. Ath-Thalaq {65} : 2 – 14)

Sedang bagi manusia yang keluar dari ketentuan Alloh SWT. Akan :

-          Diturunkan derajatnya lebih rendah dari binatang (QS. Al-A’raf {7} : 179)

-          Tindakannya akan didominasi oleh nafsu yang rendah/negative (QS. Al-jatsiyah {45} :23)

-          Hidupnya tidak akan tenang, saling tindas dan selalu curiga (QS. Al-Baqoroh {2} : 36).

 

2.  Uraian Materi

a.    Iman Kepada Alloh dan Sifat-sifat-Nya.

1.    Pengertian Iman kepada Alloh SWT.

Menurut bahasa, iman berasal dari bahasa Arab yaitu : NmA  -   NmWy~       AnAmyA|

Yang berarti percaya, sedangkan menurut istilah, iman ialah keyakinan yang tidak tergoyahkan yang timbul berdasarkan pegetahuan dan kepercayaan.

Dengan demikian yang dimaksud dengan iman kepada Alloh SWT ialah : Percaya dan yakin dengan sepenuh hati adanya Alloh SWT, sifat-sifat, ciptaan dan hukum- hukum-Nya.

 

Cara beriman kepada Alloh SWT ada 2 :

-          Secara Ijmali yaitu :

Percaya kepada Alloh SWT secara garis besar, seperti meyakini Alloh SWT itu ada, menciptakan alam semesta, mengatur makhluk-makhluk-Nya dan Maha pengasih dan maha penyayang.

-          Secara Tafshili, yaitu :

Percaya kepada Alloh secara rinci dengan mengetahui sifat-sifat dan nama-nama yang indah (Asmaul Husna)

 

B.Ruang Lingkup Keimanan Kepada Alloh SWT dan Tanda-tanda Penghayatannya.

Tanda-tanda seorang mukmin dalam menghayati sifat-sifat Alloh SWT, diwujudkan dalam tiga hal yaitu : Memiliki pengetahuan tentang Alloh SWT, Mempunyai keyaki nan kepada-Nya, dan bersedia secara berkesinambungan untuk ma’rifat kepada-Nya ( ma’rifatulloh)

 

Pengetahuan, keyakinan dan ma’rifatulloh meliputi 3 hal yaitu:

1.    Pengetahuan, keyakinan dan ma’rifat kepada “Rububiyah” Alloh SWT (QS. Al Ankabut {29} : 61).

Yaitu keyakinan bahwa Alloh SWT adalah pencipta dan pemelihara alam semesta.

Esensi aqidah adalah tauhid (QS. Al-Baqoroh {2} :163 dan QS. Muhammad {47} : 19) Setiap perbuatan yang bertentangan dengan jiwa tauhid adalah syirik dan perbuatan syirik menurut Al Quran :

a.    Dosa yang paling besar (QS. An Nisa’ {4} : 48)

b.    Kesesatan yang fatal (QS. An Nisa’ {4} : 116)

c.    Diharamkan masuk surga (QS. Al Maidah {5} : 72)

d.    Dosa yang tidak diampuni (QS. An Nisa’ {4} 48)

Adapun penyebab syirik kepada Alloh adalah SWT adalah :

a.    Harga diri yang sangat besar (QS.An Naziat {79} : 24, QS. Az Zukhruf {43} : 51

b.    Berpegang teguh pada tradisi (QS. Az Zukhruf {43} : 23 – 24 , Al Baqoroh {2} : 170)

c.    Orang kaya yang tertipu kekayaannya (QS. Al Qoshosh {28} : 34 – 39, Al Ahqaf {46} : 50)

d.    Tunduk pada hawa nafsu (QS. At Taubah {9} : 24, QS. Al Baqoroh {2} : 65)

e.    Orang kuat yang melalukan perbuatan yang keliru (QS. Al Qashosh {28} : 34, QS. Al Ahqaf {46} : 24 – 26).

f.     Orang yang berbudi luhur dianggap sebagai tuhan (QS. Al Imran {3} : 79 – 80)

Kesaksian manusia kepada Alloh pertama kali dilakukan manusia pada alam dzurriyah (alam ruh) sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al A’raf {7} : 172) :

 

                        Pengingkaran pengakuan tersebut merupakan bentuk karakter jahiliah karena :

a.    Tidak mengakui Alloh sebagai Rabb (QS. Al A’raf {7} : 54)

b.    Tidak mengakui Alloh sebagai malik (raja) (QS. Al Baqoroh {2} : 257)

c.    Tidak mengkui Alloh sebagai Illah (QS. Muhammad {47} : 19, Thaha {20} : 14)

 

2.    Pengetahuan, Keyakinan dan Ma’rifat kepada “Uluhiyah” Alloh SWT (QS. Al Fatiha {1} : 4 , Al Ikhlas { 112} : 1 – 2).

Yaitu keyakinan bahwa Alloh adalah satu-satunya zat yang berhak disembah.

Beribadah kepada Alloh SWT harus berbentuk Muroqobah Ilahiyah artinya mempunyai dampak positif terhadap perubahan prilaku orang yang melaksanakan ibadah, sehingga akan lebih mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Adapun sasaran ibadah itu sendiri adalah :

a.    Membersihkan jiwa (QS. Al Ankabut {29} : 45)

b.    Memperbaiki akhlak (QS. At Taubah {9} : 163)

c.    Meluruskan perjalanan hidup manusia (QS. Al baqoroh {2} : 197)

 

Ibadah dalam Islam mempunyaai tiga fungsi yaitu :

a.    Merupakan pengikat seorang hamba dengan Alloh.

b.    Meningkatkan kebaikan dan mendorong untuk hidup takwa dalam segala aspek kehidupan.

c.    Merupakan media komunikasi antara hamba dengan Alloh SWT. (QS. Ali Imran {3} : 112, QS. Al Baqoroh {2} : 21)

Prinsip – prinsip ibadah adalah :

a.    Tidak Musyrik (QS. An Nisaa’ {4} : 116)

b.    Takut kepada Alloh SWT. (QS. An Nuur {24} : 52)

c.    Cinta kepada Alloh SWT. (QS.Al Baqoroh {2} : 52

d.    Bertaubat kepada-Nya (QS. At Tahrim {66} : 8, An Nuur {24} : 31).

e.    Selalu bersyukur atas nikmat dan karunia-Nya (QS. Al Baqoroh {2} ; 152, 172)

f.     Tidak mengikuti pola non ilahiyah (QS. Az Zukhruf {43} : 23 – 24)

g.    Tidak setengah- setengah dalam beragama dan tidak menjadikan agama sebagai permainan (QS. Al An’Am {6} : 70, QS. Al Hajj {22} : 11)

h.    Ridha dan ikhlas kepada qodho dan takdir Alloh ( HR. Tabrani)

Penyebab rusaknya ibadah seorang Muslim karena :

a.    Syirik kepada Alloh SWT. (QS. An Nisa’ {4} : 48)

b.    Berserah diri kepada selain-Nya (QS. Yunus {10} : 84)

c.    Beriman kepada sebagian Al Qur’an (QS. Al Baqoroh {2} : 85)

d.    Membenci dan meragukan keimanan (QS. Muhammad {47} : 9)

e.    Mengejek dan mempermainkan ayat-ayat-Nya (QS. At Taubah {9} : 65-66)

f.     Menetapkan dan mengikuti hukum selain hukum-Nya (QS. Al Maidah {5}:49-50

g.    Menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal (QS. At Taubah {9} : 31)

h.    Mengambil teman kepercayaan orang yang memusuhi islam (QS. Al Maidah {5} : 57)

i.      Mengikuti pikiran dan pedoman hidup (agama) selain Islam (QS. Ali Imran {3} ; 83 – 85)

3.    Pengetahuan, Keyakinan dan Ma’rifat kepada “Asma Wasifatihi” (QS. An Nahal {16} : 60, QS. Asy Syu’ara {26} : 11)

Yaitu keyakinan bahwa Alloh SWT memiliki sifat wajib 20, mustahil 20, jaiz 1 dan 99 nama yang indah. Ada 9 sifat wajib Alloh yang ada dalam Asmaul Husna.

Perbedaan sifat dan Asmaul Husna bagi Alloh ialah, kalau sifat berkaitan dengan zat-Nya, kalau Asmaul Husna berkaitan dengan af’al (perbuatan-Nya)

 

Melalui ayat (QS. Thaha {20} : 14), jalan ma’rifatulloh secara operasional membutuhkan dua pendekatan :

a.    Pendekatan dari manusia kepada Alloh SWT.

b.    Pendekatan dari Alloh SWT kepada manusia.

 

Proses ini perlu sarana atau fasilitas dan Alloh menyediakan dua fasilitas :

a.    Fasilitas Internal, yang ada pada manusia berupa akal (kemampuan meyerap, menganalisa yang ditangkap indera), piker (proses kerja akal) dan ilmu.

b.    Fasilitas Eksternal, yaitu fasilitas untuk sampai pada ma’rifatulloh melalui isyarat keberadaan Alloh SWT, yaitu isyarat formal (ayat kauliyah / ayat yang tertulis), isyarat non formal (ayat kauniyah / alam semesta) dan isyarat al ayat khash (ayat khusus / mukjizat dan karomah).

Pendekatan dari manusia kepada Alloh SWT dapat dilakukan melalui 2 cara :

a.    Ma’rifat dengan akal (QS. Al-An’am {6} : 75-79). Menggunakan akal adakalanya menghasilkan keyakinan akan adanya Alloh SWT. Disamping menghasilkan sebaliknya, sebab hasil pertimbangan akal itu selalu dimulai dari keraguan antara positif dan negatif. Selain itu akal tanpa hidayah agama juga akan sesat, oleh karena itu orang yang tidak menerima dakwah Islam, berarti tidak menerima hukum Alloh.(QS.Al Isra’{17} : 15)

b.    Ma’rifat dengan dalil naqli melalui ciptaan Alloh SWT (QS. Al Alaq {96} : 1-5)

Sebab terputusnya ma’rifatulloh :

a.    Tertutup hati (QS. Al Baqoroh {2} : 6 – 7)

b.    Tidak mendapat bimbingan Alloh SWT (QS. An Nahl {16} : 104)

c.    Tidak sama antara kata dan hati (QS> Al Baqoroh {2} : 10, QS. Al Furqon {25} : 43 – 44)

d.    Lengah (QS. Yunus {10} : 7)

e.    Salah langkah atau jalan untuk berma’rifat (QS. Al An’am {6} : 153, QS Yusuf {12} : 106)

 

 

 

 

 

C.Asmaul Husna

1.    Pengertian Asmaul Husna

Asmaul Husna berarti nama-nama yang baik dan indah jumlahnya 99. Asmaul Husna diterangkan dalam QS. Thaha {20} : 8

 

7.       Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik),

 

Dan dijelaskan dalam sebuah hadis yang artinya :

“Sesungguhnya Alloh mempunyai 99 nama yaitu 100 dikurangi 1 (satu). Barang siapa menghafalkannya, akan masuk surge, sesungguhnya Alloh itu witir (tidak genap). Dia menyukai witir itu”. (HR. Baihaqi)

 

Menurut Abdullah Sani dalam bukunya Asmaul Husna 76 nama-nama dari Asmaul Husna itu berasal dari Al Quran, sedang 23 lainnya terdapat dalam hadits.

 

Asmaul Husna dapat dibagi 5 kelompok :

a.    Kelompok yang berhubungan dengan Zat Alloh SWT seperti Al-Wahiid (Maha Tunggal), Al-haq (Maha Benar), Al-Quddus (Maha Suci), Al-Somad (Maha dibutuhkan).

b.    Kelompok yang berhubungan dengan ciptaan Alloh SWT. Seperti Al-Khaliq (Maha pencipta), Al-Bari (Maha mengadakan dari yang tiada), Al Mushawwir (Maha membuat bentuk).

c.    Kelompok yang berhubungan dengan keagungan dan kemuliaan zat-Nya, seperti Al-Azhim (Maha agung), Al-Aziz (Maha perkasa), Al Alii (Maha tinggi)

d.    Kelmpok yang berhubungan dengan kasih Alloh pada makhluk-nya seperti Ar-Rahman (Maha pemurah), Ar-Rahim (Maha pengasih), Al-Halim (Maha penyantun)

e.    Kelompok yang berhubungan dengan keluasan ilmu Alloh SWT, seperti Al-Alim (Maha mengetahui), Al-Bashir (Maha melihat), As-Sami’ (Maha mendengar).

 

2.    Dalam Asmaul Husna terdapat 9 sifat-sifat Alloh yaitu :

a.    Al-‘Aliim : ilmu (Maha Mengetahui)

Al-‘Alim adalah nama Alloh SWT yang menunjukkan bahwa pemilik nama ini adalah sumber dari segala ilmu bagi makhluk-Nya. Alloh lah yang telah mengajarkan ilmu bagi hamba-Nya yang bodoh dan dan menunjukkan jalan bagi yang tersesat.

Nama Alloh Al-‘Alim juga menunjukkan arti bahwa Allohlah yang maha mengetahui sesuatu segala sesuatu baik yang besar maupun yang kecil, yang nyata dan yang tersembunyi, seperti apa yang ada dalam hati dan fikiran manusia. (QS. Al An’am {6} : 80)

 

b.    As-Samii’ = sifat sama’ (Maha Mendengar)

Alloh SWT sang pencipta yang telah menciptakan indera pendengaran bagi seluruh makhluk-Nya. Alloh maha mendengar dan sebaik-baik pendengaran.  binatang kecil di dasar lautan.

 

c.    Al-Bashiir = sifat Bashaar (Maha Melihat)

Alloh adalah zat yang maha melihat segala sesuatu yang berada dialam semesta ini baik yang besar maupun yang kecil, bahkan benda yang lebih kecil dari atom sekalipun tidak lepas dari penglihatan-Nya.

Penglihatan Alloh meliputi segala sesuatu dan tidak dapat terhalang oleh apapun.

 

d.    Al-Hayyu = sifat Hayat (Maha Hidup)

Al-Hayyu artinya maha hidup, maksudnya Alloh hidup abadi tidak ada awal dan akhir. Sifat ini hanya dimiliki oleh Alloh semata (QS Al Furqon {25} : 58). Sehingga Alloh SWT merupakan sumber kehidupan.

 

e.    Al-Qoyyum = sifat Qiyamuhu binafsihi (Maha berdiri sendiri)

Maksudnya adalah hanya Allohlah penguasa serta pengatur seluruh urusan makhluk. Dalam dua nama ini tersimpan banyak rahasia Alloh, Alloh SWT akan mengabulkan permohonan hamba-hamba-Nya. Dua nama ini dapat dijumpai dalam Ayat Kursi yang merupakan “tuannya Al Qur’an”.

                           

 255. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur.    

                        f.  Al-Wahiid = Sifat wahdaniyyah (Maha Esa)

 Al-Wahiid adalah Tuhan yang maha tunggal, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allohlah       sembahan yang hakiki serta tempat meminta bagi hamba-Nya. Tidak ada tuhan selain Alloh tempat memohon pertolongan bagi hamba-Nya. (QS. Al Baqoroh {2} : 255)

 

f.     Al-Qaadiir = Sifat Qudrat (Maha Kuasa)

Dengan kekuatan dan keagungan yang dimiliki-Nya, Alloh SWT berkuasa atas segalanya. Kekuasaan-Nya melebihi apapun. Dengan kekuasaan-Nya Alloh mengatur perjalanan bintang di langit ataupun perjalanan manusia di bumi.

 

g.    Al-Muqaddim  = Sifat Qidam (Maha Dahulu)

Al-Muqaddim dan Al-Muakhir dapat berarti Alloh SWT adalah zat yang berkuasa untuk mendahulukan sesuatu atas sesuatu karena ada hikmah mulia di belakangnya. Dan hikmah tersebut hanya Alloh yang mengetahuinya.

Alloh juga berkuasa untuk mengakhirkan sesuatu dari sesuatu yang lain sesuai dengan keinginan dan kehendak-Nya.

 

 

h.    Al-Baaqi = sifat Baqa’ (Maha Kekal).

Al-Baaqi merupakan nama Alloh SWT yang mengandung makna kesempurnaan dan keagungan. Nama ini mengisyaratkan bahwa Alloh tidak akan mati. Allohlah zat yang menetapkan kematian bagi setiap orang yang hidup.

 

D.   Perilaku Yang Mencerminkan Keimanan Terhadap Sifat Alloh dalam Asmaul Husna.

 

1.    Menyadari keagungan Alloh SWT, sehingga merasa kecil di hadapan-Nya, yang pada gilirannya akan menghasilkan sikap rendah hati, sopan santun, bijaksana dll.

2.    Menambah rasa keimanan dengan selalumeresapi dan menyebut nama Alloh dan berupaya ingin semakin dekat kepada-Nya.

3.    Sadar dan segera bartaubat ketika berbuat dosa serta khilaf, ia segera memohon ampun dan bertaubat kepada Alloh SWT.

4.    Berusaha menerapkan Asmaul Husna dalam kehidupan sehari-hari.

5.    Bergetar hatinya apabila disebut nama Alloh SWT.

6.    Bertambah rajin membaca Al-Qur’an sebagai usaha memperkuat iman.

7.    Beribadah hanya kepada Alloh dengan ikhlas. (QS. Al-Bayyinah {98} : 5.

8.    Tunduk dan patuh kepada peraturan Alloh dan Rasul-Nya.

9.    Mengasihi sesame manusia yang membutuhkan bantuan.

 

Skema

 Perwujudan Pribadi Yang Beriman  (Buah dari Iman)

 

Beribadah hanya pada-Nya (QS.51:56)

            

 

Bersyukur atas segala pemberian-Nya (QS.31:12, 14:7)

Kepada Alloh SWT

                                                              

 

Pribadi beriman menunaikan aspek-aspek kehidupan sebagai  berikut

Terhadap Al-Qur’an

Mengimani

Mentauladani (QS.24:62, 3:31, 3:59)

Mencintai (QS. 9:24)

Membaca (QS.73:4)

Mengamalkan (QS.29:51, 25:30)

Menyebarluaskan

Menghafal

Mengingat janjinya dengan Alloh (QS.7:172)

Tidak mempersekutukan-Nya(QS.31:12)

Hanya takut pada-Nya(QS.9:13)

Kepada Rasululloh SAW

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menahan kebajikan,kedamaian dan keadilan(QS.60:8)

Selalu menebar rahmat bagi sesame(QS. 21:107)

Sadar bahwa manusia khalifah di bumi (QS.2:30)

Mengelola,memakmurkan bumi (QS.14:32-33)

 

 

 

 

 

 

 

Mengevaluasi segala perbuatan (QS.59:18)

Bersungguh-sungguh menjalani kehidupan (QS.29:69)

Selalu merasakan kehadiran-Nya(QS.26:218)

Diri Pribadi

Sesama Manusia

Terhadap Lingkungan

 

 

 

 

 

 

 

 

·         Iman kepada Alloh SWT merupakan dasar yang harus dilakukan oleh setiap muslim, karena dengan mengimani adanya Alloh SWT, akan paham betapa kecilnya manusia dihadapan Alloh, mengetahui arah dan tujuan kehidupannya.

 

·         Keyakinan akan adanya Alloh SWT merupakan rukun iman yang pertama yang mesti diper cayai oleh setiap muslim. Dengan kata lain, percaya dan yakin dengan sepenuh hati adanya Alloh SWT, sifat-sifatnya, ciptaan dan hukum-hukumnya.

 

·         Tanda-tanda seorang mukmin dalam menghayati sifat-sifat Alloh SWT diwujudkan dalam 3 hal antara lain :

1.    Memiliki pengetahuan tentang Alloh SWT.

2.    Mempunyai keyakinan kepada-Nya.

3.    Bersedia secara berkesinambungan untuk ma’rifat pada-Nya.

 

·         Pengetahuan, Keyakinan dan ma’rifat kepada Alloh meliputi 3 hal yaitu :

1.    Pengetahuan, keyakinan dan ma’rifat kepada Rububiyah Alloh SWT.

2.    Pengetahuan, keyakinan dan ma’rifat kepada Uluhiyah Alloh SWT.

3.    Pengetahuan, keyakinan dan ma’rifat kepada Asma washifatihi

 

·         Memahami Asma’ul Husna yaitu nama-nama Alloh SWT yang baik dan indah yang berjumlah 99, akan dapat mempertebal rasa keimanan karena akan tergambar betapa maha besarnya Alloh SWT yang menciptakan manusia dan seluruh alam raya..

 

Evaluasi Kognitif Skill

 

1.    Tuliskan pengertian iman kepada Alloh!

2.    Tuliskan pengertian dalil naqli dan aqli !

3.    Jelaskan fungsi ibadah dalam Islam !

4.    Tuliskan manfaat istiqomah dalam keimanan !

5.    Sebutkan prinsip-prinsip dalam beribadah kepada Alloh SWT. !

6.    Tuliskan penyebab rusaknya ibadah yg dilakukan seorang muslim !

7.    Tuliskan apa saja sifat Alloh yang terdapat dalam asmaul husna !

8.    Tuliskan tanda-tanda penghayatan terhadap asmaul husna !

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

AKHLAKUL MADZMUMAH

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

Normal
0
false

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

AKHLAKUL MADZMUMAH (SIFAT TERCELA)

 

Tujuan Akhir Pembelajaran.

 

1.      Menjelaskan pengertian hasud, riya dan aniaya

2.      Menjelaskan contoh sifat hasud, riya dan aniaya

3.      Menunjukkan sikap menjauhi sifat hasud, riya dan aniaya.

4.      Menjelaskan cara menjauhi sifat hasud, riya dan dan aniaya.

 

Sifat-sifat akhlak yang baik (akhlakul karimah) banyak dijelaskan Al Quran terutamayang menyangkut perilaku keteladanan Rasulullah Muhammad SAW.Ketika salah seorang sahabat bertanya kepada Siti Aisyah (istri Rasulullah) mengenai bagaimana akhlak Rasulullah itu, Siti Aisyah menngembalikan pertanyaan kepada sahabat nabi tersebut,” Bukankah anda telah membaca Al Quran?” Aisyah kemudian mengatakan bahwa Al Qur’an itu mengandung contoh-contoh tentang akhlak Rasulullah yang sepatutnya dijadikan suri tauladan oleh seluruh umat manusia.Sifat-sifat akhlak yang buruk atau tercela (akhlakul mahmudah) juga telah diungkapkan Al Qur’an agar menjkadi peringatan untuk dapat dijauhi, karena perilaku butuk atau tercela yang dapat merusak iman seseorang dan pada akhirnya akan merusak dirinya serta kehidupan masyarakat. Akhlak buruk itulah selalu ditunjukan oleh kaum Quraisy dahulu untuk memojokkan kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah sebagaimana yang dilakukan oleh tokoh Quraisy, seperti Abu Jahal, Walid bin Mughirah, Akhnas bin Syariq, Aswas bin Abdi Yaqutus, dan lail-lain. Oleh karena itu iman merupakan suatu pengakuan terhadap kebenaran yang harus dipelihara, dan ditingkatkan kualitasnya melalui sikapnya dan perilaku terpuji.

 

     Rasulullsah SAW bersabda:

     Artinya:”Iman itu ialah melihat dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengerjakan dengan anggota (perbuatan).” (HR.Bukhari Muslim)

 

      Imam Turmidzi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah saw bersabda

      “Malu adalah sebagian dari iman dan iman itu di surga. Sedangkan sikap tidak sopan adalah bagian dari buruknya peringai dan perangai yang buruk adalah di neraka”

 

      Keimanan seseorang akan rusak atau tidak manfaat apabila seseorang malukukan hal-hal yang dapat mengurangi bahkan merusak keimanannya. Diantara perbuatan yang tercela dan menyebabkan rusaknya keimanan adalah hasud,riya’ dan aniaya.

 

I.      HASUD 

 

1.    Pengerian Hasud

 

Hasud ialah rasa atau sikap tidak senang terhadap kenikmatan atau kebahagiaan yang di peroleh oleh orang lain dan berusaha untuk melenyapkan atau mencelakaka orang lain tersebut

Sifat tercela ini harus dihindari oleh semua orang, khususnya dikalangan generasi muda muslim karena jika sifat hasud ini terus menerus menjadi kebiasaan, tentu akan membawa akibat hncurnya kebaikan dalam diri seseorang akibat bertambahnya sifat rakus, tamak, dendam, serta rasa permusuhan di dalm diri.

Rasulallah Muhammad SAW bersabda :

Artinya : “ Telah masuk kedalam tubuhnya penyakit-penyakit umat dahulu ( yaitu ) benci dan dengki, itulah yang membinasakan agama, bukan dengki mencukur rambut.” (HR. Ahmad dan Tarmudzi)

 

Dari hadits tersbut diatas, dapat dipahami bahwa hancurnya tau terpecahnya agama menjdi bercerai berai saling membenci, bermusuhan, dan saling merusak disebabkan sifat hasud dan dengki yang berkepanjangan diantara pemeluknya. Dalam hdist lain Rasullulah Muhammd SAW bersabda

 

Artinya : “Janganlah kami saling mendengki,saling memutuskan hubungan, saling membenci dan saling membelakangi, jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang telah diperintahkan Allah kepadamu. “(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Apabila kita perhatikan dan kita kaji dalil-dalil naqli yang terungkap dalam hadits-hadits Rasulallah SAW bahwa hasud sering terjadi akibat adanya iri hati. Iri hati artinya : ‘ merasa ingin menguasai sesuatu yang dimiliki orang lain karena dirinya belum memiliki dan tidak mau ketinggalan.” Iri hati tidak diikuti dengan perbuatan mencelakakan orang lain tersebut. Iri hati itu ada yang termasuk sifat tercela dan ada yang tidak.

Berdasarkan hadits riwayat Nukhari-Muslim ada dua macam iri hati yang dibolehkan islam, yaitu iri hati kpada orang yang dianugerahi harta yang banyak kemudian harta itu digunakannya untuk hal-hal yang diridhoi Allah dan iri hati kepada orang yang dibri ilmu pngetahuan oleh Allah SWT, kemudian ilmu itu diamalkannya serta diajarkn pada orang lain.

Seseorang yang beriman kepada qada’ dan qadar tentu tidak akan bersikap dengki kepada orang lain yang mempunyai kelebihan karena ia menyadari bahwa hal itu merupakan kehendak dan kekuasaan Allah SWT. Allah SWT berfirman :

 

Artinya : “ Adakah (patut) mereka iri hati (dengki) kepda manusia (Muhammad) atas karunia yang telah diberikan Allah kepada mereka.” (Qs. An-Nisaa, 4:54)

 

Setiap muslim atau muslimah wajib hukumnya menjauhi sifat hasud / dengki karena hasud termasuk sifat tercela dan merupakan perbuatan dosa. Allah SWT berfirman :

 

Artinya : “ Dan jnganlah kamu iri hati terhadap apa yng dikaruniakn Allah kepada sebagian kamiu lebih banyak dari sebagian yang lain.” (Qs. An-Nisa, 4 : 32)

 

Iri hati merupakan penyakit rohani atau jiwa. Apabila seseorang telah terkena penyakit hati, ia akan jatuh dari ajaran agama, bersikap takabur, suka merendahkan dan meremehkan orang lain.Dia tidak mempunyai rasa malu lagi untuk menjatuhkan orang lain, datang kesana kemari dengan berbagai cara supaya orang yang dihasudnya itu kebahagiaannya lenyap dari mereka bahkan berpindah kepadanya.

Orang yang mempunyai sikap ini, sebenarnya merugikan dirinya sendiri, karena sikap demikian akan selalu merasa tidak puas terhadap berbagai hal, tidak akan dihargai oleh orang lain, takabur, dan membanggakan diri. Makin lama sikap ini melekat pada diri seseorang, akan semakin sakit rohaninya atau jiwanya. Ibarat besi kena karat, semakin lama karat merusak besi semakin hancur besi itu, atau laksana orang minum air laut, semakin bnyk orang tersebut minum akan semakin haus. Semkin lama sifat hasud itu melekat pada diri seseorang, semakin rusk dan semakin tidak puas jiwanya.

 

 

 

           2,      Bahaya atau Kerugian yang ditimbulkan oleh Perbuatan Hasud antara lain :

 

     1).  Dapat memutuskan hubungan persaudaraan dan menghapus segala kebaikan yang pernah  

           Rasulallah SAW bersabda :

     Artinya : “ Juhkanlah dirimu dari hasud karena sesungguhnya hasud itu memakan kebaikan

     Sebagaimana api memakan kayu bakar (HR. Abu Daud)                                                                   

     2).  Dapat merusak iman

           Rasulallah SAW bersabda :

    Artinya : “Dengki (hasud) merusak iman sebagaimana Jadam merusak madu.” (HR. Daelami)

     3). Dapat merusak mental (hati) pendngki itu sendiri, sehingg kehidupan merasa gelisah dan                .    tidak memperoleh ketentraman

     4). Dapat menimbulkan kerugian atau bencana baik bagi penghsud maupun orang yang    

          dihasud.

 

           3. Usaha-usaha  Preventif Perbuatan Hasud

 

         Agar terhindar dri penyakit hasud orang yang beriman diperinthkan untuk :  

 

     1).  Memohon perlindungan kepada Allah SWT dari kejahatan pendengki apabila ia mndengki    atau menghasud, sebagaimana telah dijelaskan Allah SWT dalam Al-Quran : Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang Menguasai  subuh dari kejahatan mkhluk-Nya, dari kejahatan orang yang dengki (penghasud) apabila ia dengki (menghasud).” (Qs. Al-Falaq ayat 1, 2 & 5)

 

      2).  Menyadari bahwa perbuatan hasud itu termasuk perbuatan tercela dan sangat berbahaya karena sifat tercela itu dapat merugikan orang lain dan dirinya sendiri.

 

     3).  Menyadari bahwa sifat hasud itu merusak amal kebaikan dan dapat menghilangkan pahalanya.

      mempunyai hak-hak yang harus dihormati oleh setiap orang.

 

·         Imam muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari jarir bin Abdullah r.a. bahwa Rasulallah SAW bersabda :

Orang yang tidak mempunyai sikap lemah lembut tidaklah mempunyai kebaikan sama sekali.”

·         Abu Daud meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mughaffal r.a. bahwa Rasulallah SAW bersabda,

Sesungguhnya Allah Maha Lemah Lembut dan menyukai sikap lemah lembut. Dia memberi kepada sikap ini sesuatu yang tidak Dia berikan kepada kekerasan.”

·         Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Aisyah r.a. berkata, “Suatu hari Rasulallah SAW datang ketempat aliran air ini dengan membawa unta dari sedekah yang terikat dilehernya. Lalu beliau bersabda :

“Wahai Aisyah, bertaqwalah kepada Allah dan bersikap lemah lembutlah kepada unta ini. Sesungguhnya sikap lemah lembut jika masuk kedalam sesuatu  maka ia akan memperindahnya dan jika ia meninggalkannya maka sesuatunitu akan menjadi buruk.”

 

 

 

 

 

 

 

II. RIYA’

 

1.    Pengertian Riya’

 

Riya berasal dari kata “ru’yah” yang artinya melihat. Menurut istilah riya’ adalah ibadah seseorang yang bukan karena Allah, tetapi ia ingin dilihat oleh orang lain. Dalam kata lain, riya’ adalah orang yang bermal atau bekerja dengan mengharapkan pujian orang lain.

Imam Al-Hafiz Ibnu Hajar dalan kitabnya Fathul Bari mengatakan bahwa riya’ ialah ibadah yang dilakukan dengan tujuan atau maksud agar dapat dilihat orang lain sehingga memuja pelakunya (ia ingin memperoleh kemasyhuran dan keuntungan dunia). Adapun orang yang berusah untuk memperdengarkan ucapan ibadah dan amal saleh kepada orang lain dengan maksud seperti pada riya’ dinamakan sum’ah (ingin didengar).

Riya’ dan sum’ah termasuk sifat tercela, merupakan syirik kecil yang hukumnya haram dan harus dijauhi oleh setiap muslim atau muslimah. Rosulullah bersabda  :

أَخوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيكُمُ الشِركُ الاَصغَرُ فَسُئِلَ عَنهُ فَقَالَ الرِّيَآءُ (رواخ احمد)

 

               Artinya : Sesungguhnya yang paling aku takutkan terjadi pada kalian adalah syirik kecil, sahabat bertanya “apakah syirik kecil itu, ya Rasulullah ?” Rasul menjawab “, Riya’ (HR. Ahmad)

               Pada Hadis lain Rasulullah SAW Bersabda

               Artinya :  Rasulullah SAW bersabda, “Allah Azza Wajalla berfirman pada hari kiamat, yaitu diwaktu sekalian hamba melihat hasil-hasil amalannya : Pergilah kamu kepada semua apa yang kamu jadikan bahan pamer (riya’) di dunia. Lihatlah apakah kamu semua memperoleh balasan dari mereka? (HR. Ahmad dan Baihaki)

 

2.    Macam-macam Riya’

 

      Menurut Imam Ghazali, sifat riya’ itu dapat dibagi menjadi 2 (dua) bagia, yaitu :

1).  Riya’ yang berhubungan dengan keduniaan (ibadah ghoeru mahdah)

2).  Riya’ yang berhubungan dengan ibadah mahdah

 

 Ria yang berhubungan dengan keduniaan adalah segala jenis usaha seseorang dengan niat di dalam hatinya mengharapkan kedudukan atau pujian dari orang lain, contohnya : kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan sosial kemsyarakat. Sedangkan riya’ yang berhubungan dengan ibadah, yaitu ibadah yang dilakukan oleh seseorang, selain mengharapkan keridoan Allah SWT, ia juga mengharapkan pujian atau sanjungan dari orang lain.

 

 Ditinjau dari brntuknya riya’ ada 2 (dua)

 

1).  Riya’ dalam hal niat

2)   Riya’ dalam hal perbuatan atau tindakan

 

Seorang yang mengatakan bahwa ia ikhlas taat kepada Allah SWT, padahal dalam hati yang sebnarnya tidak demikian, maka yang demikian itu tergolong riya’ dalam niat, sdang riya’ dalam perbuatan seperti orang yang berpakaian mewah dengan maksud agar orang lain memujinya. Riya’ dalam ucapan seperti seringnya memberi nasehat kepada orang lain, mengucapkan kata-kata hikmah, sering bertasbih jika dihadapan orang banyak tapi jika sendirian hanya melamun saja dan hal yang dilakukan itu hanya ingin dilihat orang lain bahwa dia itu seorang yang alim, taat beragama, padahal sesunggunya tidak demikian.

Ukuran riya’ atau tidaknya pekerjaan seseorang itu niat atau getaran hati (qalbu) seseorang, sikap ini hanya dia sendiri yang dapat mengukur dan merasakannya, orang lain tidak dapat mengetahui. Sedang ukuran riya’yang kedua pengaruhnya terlihat dalam kegiatan sehari-hari.

Riya dlam hal urusan dunia (ibadah ghaer mahdah) atau riya’ dalam ibadah (mahdah) banyak diungkapkan dalam Al-Quran, diantaranya :

 

 

1).  Riya’ dalam perbuatan

      Seperti ketika akan mengerjakan shalat, seseorang tampak memperlihatkan kesungguhan dan kerajinan, namun alasannya karena takut dinilai rendah dihadapan guru atau orang lain. Dia melaksanakan shalat dengan khusyuk dan takut disertai harapan mendapat perhatian dalam QS. Al-Ma’un ayat 4 -7

 

 

                    

 

 

 

 

 


 

 

 

Artinya :

(1). Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,

(2). (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,

(3). orang-orang yang berbuat riya

(4). dan enggan (menolong dengan) barang berguna

 

2).  Riya dalam prilaku

 

Firman Allah dalan QS. An-Nisa 142

 

 

                                                                                                                         

               Artinya :  Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya[365] (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali (QS. An-Nisa 142)

 

Maksudnya: Alah membiarkan mereka dalam pengakuan beriman, sebab itu mereka dilayani sebagai melayani Para mukmin. dalam pada itu Allah telah menyediakan neraka buat mereka sebagai pembalasan tipuan mereka itu.

Riya Ialah: melakukan sesuatu amal tidak untuk keridhaan Allah tetapi untuk mencari pujian atau popularitas di masyarakat.

Maksudnya: mereka sembahyang hanyalah sekali-sekali saja, Yaitu bila mereka berada di hadapan orang.

 

 3). Riya’ dalam tindakan

 

Firman Allah dalan QS. Al-Baqarah ayat 264

 

 
 

 

               Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. Al-Baqarah ayat 264)

 

3.    Ciri-ciri orang yang berbuat riya’ atau sum’ah

 

                   1)   Tidak akan melakukan perbuatan baik apabila tidak dilihat orang

          2)   Amal atau perbuatan baik yang telah ia lakukan sering diungkit-ungkit atau disebut-sebut

          3)   Beramal atau beribadah hanya sekedar ikut-ikutan, itupun dilakukan apabila sedang     

                Berada ditenga-tengah banyak orang.

          4)   Amal (perbuatan baiknya) selalu ingin dilihat, diperhatikan ingin mendapat pujian dan

                Dan ingin didengar orang lain.                                                                                     

          5). Terlihat tekun dan bertambah motifasinya dalam beribadah apabila mendapat pujian dan        sanjungan, sebaliknya semangatnya akan menurun bahkan menyerah apabila dicela orang

 

 

 

 

4.    Bahaya atau kerugian yang diakibatkan oleh perbuatan riya” dan sum’ah

 

          1)   Muncul rasa ketidakpuasan terhadap apa yang telah dikerjakannya

          2)   Muncul rasa hampa dan gelisah di saat berbuat sesuatu

          3)   Mrusak nilai kebaikan dan pahala ibadah, bahkan bisa hilang sama sekali.

          4)   Mengurangi kepercayaan dan rasa simpati dari orang lain.

          5)   Menyesal melakukan sesuatu apabila orang lain tidak melihat dan memperhatikannya.

 

 

 

 

III.  ANIAYA (Zhalim)

 

1.    Pengertian Aniaya

 

                          Aniaya dalam bahasa arab disebut “zalim” yang berarti melampaui batas, melanggar                        Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. Al-Baqarah ayat 264)

ketentuan, keterlalun atau menempatkan sesuatu permasalahan tidak pada proporsinya.

Aniaya (kezaliman) dapat diartikan sebagai perbuatan yang melampaui batas-batas kemanusiaan dan menentang atau menyimpangdari ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan Allah SWT.

 

Allah SWT berfirman :

Artinya : “Barang siapa yang melanggar hukum- hukum Allah, merka itulah orang-orang yang zalim.” (Qs. Al-Baqarah,2 : 229)

Aniaya atau zalim termasuk sifat tercela yang dikutuk Allah, dilaknat para malaikat dan dibenci sesama. Aniaya atau zalim termasuk perbuatan dosa yang dapat menjatuhkan martabat pelakunya dan merugikan pihak lain.

 

2.    Macam-macam Aniaya

 

Sikap dan perilaku aniaya atau kezaliman, dapat terjadi terhadap Allah SWT, terhadap diri    sendiri, terhadap orang lin dan terhadap alam sekitar atau lingkungan.

 

1).  Aniaya (zalim) terhadap Allah SWT.

 

Kezaliman terhadap Allah SWT, yaitu tidak adanya pengakuan yang jujur, keimanan yang benar, bahwasanya kita manusia telah diciptakan Allah SWT untuk menjadi “Abdullah” (hamba Allah) dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun dan sebagai “Kholifatullah” (Khalifah Allah) yakni pengatur, pengelola dan pemakmur alam jagadraya ini dengan segala ktentuan dan aturan yang telah Allah SWT tetapkan dalam Al-Quran dan Sunnah-Nya. Apabila kita tidak mengikuti ketentuan tersebut berarti kita telah tergolong kepada orang yang telah berbuat aniaya (zalim) terhadap Allah SWT.

Allah SWT berfirman :

Artinya : “Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (Qs. Al-Maidah, 5 : 45)

 

2).  Aniaya (zalim) terhadap diri sendiri

 

Aniay terhadap diri sendiri misalnya mmbiarkan diri sendiri dalam keadaan bodoh dn miskin, karena malas, meminum minuman keras, menyalah gunakan obat-obatan terlarang (narkoba), menyiksa diri sendiri dan bunuh diri (sebagai akibat dari tidak mensyukuri nikmat pemberian Allah SWT)

Allah SWT berfirman :

Artinya : “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dengan tanganmu kepada kecelakaan, dan berbuat baiklah karena swesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. Al-Baqarah, 2 :195)

 

3).  Aniaya (zalim) terhadap sesama manusia

 

Aniaya terhadap sesama manusia seperti ghibah (mengumpat), naminah (mengadu domba), fitnah, mencuri, merampok, melakukan penyiksaan dn melakukan pembunuhan, berbuat korupsi dan manipulasi.

Allah SWT berfirman :

Artinya :’……Dan janganlah kamu berbuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (Qs. Hud, 11 : 85)

Rasulallah SAW dalam haditsnya bersabda :

Artinya : “Barang siapa yang merampas hak orang muslim lainnya, dengan sumpahnya Allah mewajibkan neraka dan mengharamkan surga baginya. Salah seorang sahabat bertanya, “Walaupun hanya merampas sesuatu yang sederhana, ya Rasulallah?” Nabi bersabda: “Walaupun hanya sepotong kayu urok.” (HR. Bukhari)

 

4).  Aniaya (zalim) terhadap alam (lingkungan)

 

Berbuat zalim terhadap alam adalah merusak kelestarian alam, mencemari lingkungan, menebang pepohonan secara liar, menangkap dan membunuh binatang tanpa mengindahkan aturan, sehingga akibat dari perbuatan itu dapat mrugikan alam dan merugikan masyarakat.

Allah SWT berfirman :

Artinya : “Janganlah kamu berbuat kerusakan dimuka bumi.”(Qs. Al-Baqarah,2 :11)

Artinya : “Telah terjadi kerusakan di darat dan di laut, karena usaha tangan manusia supaya merasakan kepada mereka sebagai akibat kerja mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Qs. Ar-Rum, 30 : 41)

 

5.    Bahaya dan Keburukan Perbuatan Aniaya

 

Adapun bahaya dan keburukan sebagai dampak dari perbuatan aniaya (zalim)  dapat menimpa pelaku (penganiaya), orang yang dianiaya, dan masyarakat.

 

1).  Bahaya / Keburukan yang akan dialami oleh Penganiaya antara lain :

      2).  Hidupnya tidak akan disenangi, melainkan dijauhi bahkan dibenci masyarakat. Allah SWT  berfirman dalam Qs. Al-Mu’minun :18 !

   3).  Hidupnya tidak akan tenang, karena dibayangi rasa takut.

   4).  Mencemarkan nama baik dirinya, dan keluarganya

      5).  Mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatan aniaya yang dilakukannya.

      6).  Mendapat siksa dengan dicampakkan kedalam api neraka (lihat Qs. Al-Maidah, 5 : 39)

      7).  Dalam kehidupannya tidak akan mendapat pelindung atau penolong. Perhatikan Qs.

            As-Syura : 8

      Artinya : “Tiadalah bagi orang zalim itu pelindung atau penolong.” (Qs. Asy-Syura ayat 8)

 

6.    Bahaya / Keburukan yang akan dialami oleh yang dianiaya dan masyarakat, diantaranya :

 

       1). Ketenangan dan ketentraman dalam hidupnya terganggu.

       2). Menumbuhkan keresahan dan kekerasan di masyarakat.

       3). Mengalami kerugian dan bencana, baik berupa kehilangan harta benda, penganiayaan     

            Terhadap fisik, mental bahkan kehilangan jiwa.

       4). Semangat dan gairah kerja bik prindi maupun masyarakat akan menurun, karena dibayangi

            Rasa takut terhadap perbuatan-perbuatan orang zalim.                                                 

       5). Allah SWT akan menurunkan azabNya, apabila kezaliman di suatu negri atau suatu kelompok msyarakat sudah meraja lela. Allah SWT berfirman dalam Qs. Yunus ayat 13 :

Artinya : “Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, ketika      mereka berbuat kezaliman.” (Qs. Yunus,10 :13)

 

7.    Upaya Prefentif untuk Menghindari diri dari perbuatan Aniaya

 

Setiap insan wajib berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjauhi perbuatan aniaya (zalim). Diantara usaha tersebut antara lain :

1).  Kesadaran akan eksistensi diri untuk selalu berbuat baik, ramah, dan sopan santun terhadap semua makhluk Allah ! Rasulallah Saw bersabda :

Artinya : “ Sesungguhnya Allah SWT mewajibkan berbuat baik kepada segala sesuatu. Bila kamu membunuh, baik-baiklah cara membunuhnya. Bila kamu menymbelih binatang, baik-baiklah cara menyembelihnya. Hendaklah salah seorang diantara kamu menajamkan pisaunya, dan hendaklah ia mempercepat mati binatang sembelihnnya.” (HR. Muslim).

2).  Berusaha menegakan keadilan dan kebaikan terhadap diri sendiri, orang lain dan masyarakat. Allah SWT berfirman :

Artinya : “ Sesungguhnya Allah menyuruh kamu supaya berlaku adil dan berbuat kebaikan.” (Qs. An-Nahl, 16 : 90)

3).  Meningkatkan kehati-hatian bahwa segala bentuk perselisihan, permusuhan, kedengkian dan peruskn trhadp sesama manusia dan alam semesta pad akhirnya dpat merugikan diri sendiri.

4).  Meningkatkan kesadaran bahwa manusia itu tidak dapat berdiri sendiri, memerlukan bantuan dari orang lain dan bantuan dari alam. Apabila mereka dirugikan akibat perbuatan zalim yang pernah dilakukan kita, mereka pun akan menjauhi dan tidak menutup kemungkinan mereka balik menzalimi.

5).  Meningkatkan kesadaran bahwa sebenarnya manusia telah banyak melakukan kezaliman, kurang patuh pada orang tua, salatpun terkadang tidak tept waktu dn lainnya. Hal ini jangan sampai ditambah lagi dengan kezaliman yang lainnya. Oleh karena itu kita senantiasa memohn kepada Allah SWT supaya dijauhkan dari sifat-sifat demikian. Allah SWT dalam firmannya :

Artinya : “ Ya Tuhan, kami telah menganiaya diri kami sendiri dn jika Engkau  tidak mengampuni kami dan membri rahmat kepada kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Araf, 7 : 23)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rangkuman

 

Ø  Hasud berbeda pengertiannya dengan iri hati, iri hati adalah merasa ingin menguasi sesuatu yang dimiliki orang lain, karena dirinya belum memiliki dan tidak mau ketinggalan. Iri hati tidak di ikuti oleh perbuatan mencelakakan dan iri hati itu ada yang dilarang dan ada yang dibolehkan. Hasud ialah rasa sikap tidak senang terhadap kenikmatan yang diperoleh orang lain dan berusaha menghilangkannya atau mencelakakan orangnya. Dengki (hasud) termasuk sifat tercela perbuatan dosa yang wajib di jauhi oleh setiap muslim/ muslimah.

Ø  Riya’ adalah memperlihatkan suatu ibadah dan amal saleh kepada orang lain bukan karena Allah, tetapi karena sesuatu selain Allah. Sedangkan memperdengarkan ucapan ibadah dan amal seleh kepada orang lain dengan maksud seperti riya disebut sum’ah. Riya’ dan sum’ah termasuk sifat tercela, syirik kecil yang hukumnya haram dan harus dijauhi oleh setiap muslim/ muslimah. Riya’ bisa terdapat dalam urusan keagamaan dan dalam urusan keduniaan. Riya’ akan mendatangkan kerugian dan bencana.

Ø  Aniaya (zalim) ialah sikap dan berperilaku tidak adil aniaya atau bengis yaitu suatu tindakan yang tidak menusiawi yang bertentangan dengan hak sesama manusia. Aniaya (zalim)termasuk sifat tercela yang hukumnya haram dan akan mendatangkat kerugian (bencana) di dunia maupun akhirat.

 

Evaluasi Kognitif Skill.

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan tepat dan benar.

1.    Tuliskanlah pengetian hasud, riya dan aniaya.

2.    Tuliskan cirri-ciri orang yang hasud.

3.    Apakah sebabnya sifat riya dilarang oleh Agama.

4.    Tuliskan macam-macam riya.

5.    Salinlah surat yunus {10} :13 beserta terjemahannya.menghindari sikap aniaya.

6.    Tuliskan cara menghindari sifat aniaya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment